KILAS INTERNASIONAL

Ucapan Mundur Trump sampai Iran Tangkap 30 Tentara

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 07:00 WIB
Pernyataan Presiden Donald Trump untuk mundur dari konflik hingga Iran menangkap 30 tentara terkait kecelakaan pesawat Ukraina mewarnai kabar internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak mengerahkan kekuatan militer untuk membalas serangan rudal Iran. (Foto: Jim WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai belahan dunia pada Selasa (14/1). Mulai dari penyataan Presiden Donald Trump untuk mundur dari konflik di luar dugaan di tengah kekhawatiran terjadinya perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat hingga Iran menangkap 30 tentara yang diduga terlibat dalam insiden salah tembak pesawat Boeing 737 milik maskapai Ukraina.

Ucapan Mundur Trump dan Antiklimaks AS-Iran

Pernyataan Presiden Donald Trump untuk mundur dari konflik dengan tidak mengerahkan kekuatan militer dalam membalas serangan rudal dan roket Iran di luar dugaan. Padahal sejauh ini tidak sedikit yang mengira AS akan merespons lewat serangan lebih dahsyat sehingga terjadi perang terbuka dengan Iran.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nostalgiawan Wahyudi menilai pernyataan dramatis Trump bukan karena takut akan pembalasan Iran. Ia menganggap Trump memang tak memiliki uang untuk menggiring AS untuk berperang secara lebih luas lagi dengan Iran.


"Kita tahu bahwa operasi pembunuhan Soleimani diperintahkan Trump tanpa sepengetahuan dan persetujuan Kongres AS. Tanpa persetujuan Kongres AS, anggaran perang tidak akan pernah turun sehingga Trump tidak punya sumber dana untuk berperang lebih jauh dengan Iran," kata Nostalgiawan saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Senin (13/1).

Kesaksian Tentara AS Berlindung dari Serangan Rudal Iran

Seluruh tentara Amerika Serakat yang berada di basis militer di Irak dilaporkan selamat dari serangan rudal Iran setelah bersembunyi di ruangan bawah tanah. Sersan Akeem Ferguson menceritakan situasi mencekam saat serangan terjadi pada Rabu (8/1) pagi.

Gedung Putih sudah mendapat peringatan dari intelijen pada Selasa siang menjelang sore bahwa serangan balasan Iran atas kematian perwira tinggi militer Mayor Jenderal Qasem Soleimani hampir pasti.

Sejak saat itu, seluruh pasukan AS di Irak diperintahkan untuk bersembunyi di dalam bungker. Ruang bawah tanah itu dibangun pada masa pemerintahan Presiden Saddam Hussein yang digulingkan.

Dikutip dari CNN, Ferguson berada di dalam bungker ketika timnya menerima transmisi radio yang mengerikan: Enam rudal balistik Iran menuju ke arah mereka.

"Saya memegang pistol dan menundukkan kepala. Saya mencoba mengalihkan pikiran, jadi saya mulai bernyanyi sambil mengingat putri saya," kata Ferguson.

[Gambas:Video CNN]

Serangan Rudal Iran Picu Kerusakan Parah di Basis Militer AS

Serangan rudal yang dilancarkan Iran pada Rabu (8/1) pekan lalu di basis militer Amerika Serikat di Ain al-Asad, Irak memicu kerusakan hingga membentuk sebuah kawah. Tak hanya itu, serangan tersebut juga membuat truk dan barak tentara yang berada di kawasan seluas stadion sepak bola itu rusak parah.

Kerusakan tersebut terjadi setelah Iran melancarkan serangan rudal sekitar pukul 1.35 dini hari. Letnan Kolonel Antoinette Chase mengatakan Iran melancarkan serangan 15 rudal ke basis militer al-Asad selama hampir dua jam.

"Ada lebih dari 10 serangan rudal yang ditembakkan Iran dan menghantam beberapa area di sepanjang lapangan terbang," ungkap juru bicara basis militer AS di Irak, Kolonel Myles Caggins seperti dilansir Associated Press.

Foto satelit yang dirilis Planet Labs Inc. menampilkan kerusakan terparah di dekat landasan pacu dan sejumlah bangunan.

Iran Tangkap 30 Tentara terkait Insiden Pesawat Ukraina

Aparat penegak hukum Iran dilaporkan menangkap 30 tentara yang diduga terlibat dalam insiden salah tembak. Insiden itu menyebabkan pesawat Boeing 737 maskapai Ukraine International Airlines nomor penerbangan PS752 yang membawa 176 orang jatuh di pinggiran Teheran, pada 8 Januari lalu.

Pengumuman itu disampaikan di tengah aksi unjuk rasa di negara itu sebagai protes atas perbuatan militer di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat

"Penyelidikan menyeluruh tengah dilakukan dan sejumlah orang sudah ditangkap terkait proses tersebut," kata juru bicara aparat penegak hukum Iran, Gholamhossein Esmaili, seperti dilansir Associated Press, Selasa (14/1).

Militer Iran baru mengakui salah sasaran tiga hari setelah kejadian. Bahkan, dilaporkan sempat ada upaya untuk menutupi kejadian tersebut. (evn/evn)