Sidang Pemakzulan Dimulai, Trump Pilih Berlibur di Swiss

CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 10:03 WIB
Sidang Pemakzulan Dimulai, Trump Pilih Berlibur di Swiss Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: Nicholas Kamm / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump diketahui menghabiskan waktu berlibur di resor musim dingin di Davos, Swiss saat anggota Senat diambil sumpah untuk menjadi juri sidang pemakzulan pada Kamis (16/1) waktu setempat.

Trump optimistis mayoritas Anggota Senat yang berasal dari Partai Republik akan tetap berada di pihaknya alih-alih menjatuhkannya. Komposisi senator fraksi Republik dan Demokrat saat ini adalah 53 anggota dan 47 orang.

"Saya akan pergi ke Davos untuk bertemu para pemimpin bisnis terbesar di dunia dan beberapa pemimpin asing," ucap Trump kepada media di Gedung Putih.


"Kita sedang dikenal. Setiap pemimpin dunia tengah menaruh perhatian ke saya dan mengatakan 'Apa yang sudah kamu lakukan? Ini merupakan hal luar biasa yang kita semua bisa lihat," imbuhnya seperti mengutip AFP.

Davos merupakan salah satu tujuan berlibur musim dingin di Swiss. Forum Ekonomi Dunia rencananya akan diselenggarakan di Davos mulai Selasa (21/1) mendatang.

Trump juga menegaskan dirinya tidak bersalah dan menyebut sidang pemakzulan dirinya akan berjalan cepat. Segala tuduhan atas dirinya disebut sebagai sebuah rekayasa dan tipuan belaka.

"Ini tipuan dan semua orang tahu itu tipuan total. Saya pikir ini [sidang pemakzulan] akan berjalan dengan sangat cepat," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Ia juga membantah tuduhan yang menyebut jika ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Ukraina. Hal itu dilontarkan oleh rekan pengacara pribadi, Rudy Giulani.

Trump menyebut jika ucapan pebisnis Ukraina, Lev Parnas tidak ada kaitannya dengan dirinya. Ia bahkan mengklaim tidak mengetahui siapa Parnas.

"Saya tidak kenal dia [Parnas]. Saya rasa saya tidak pernah berbicara dengannya," kata Trump.

Beberapa jam jelang sidang pemakzulan, Giulani mengatakan bahwa dia sebenarnya mengetahui keterlibatan Trump dan sejumlah tokoh Partai Republik lain terkait Ukraina.

Trump diduga melakukan serangkaian penyalahgunaan kekuasaan dan berupaya menghalangi Kongres. Ia diduga sengaja menahan bantuan pertahanan untuk Ukraina sebesar US$391 juta pada Juli hingga September 2019.

Hal itu dilakukan diduga untuk menekan Presiden Ukraina, Volodymyr Zlenskiy agar mengabulkan permintaan Trump mengusut dugaan korupsi mantan anggota dewan komisaris perusahaan energi Burisma, Hunter Biden.

Hunter merupakan anak calon presiden Partai Demokrat Joe Biden yang akan menjadi rival Trump dalam Pemilu November mendatang. Trump diduga melakukan upaya tersebut untuk menjegal Biden.

Disamping itu, Trump juga dituduh menghalangi Kongres dengan tidak memberikan akses dokumen kepada panitia khusus. Ia memerintahkan orang-orang yang dipanggil DPR untuk tidak hadir. (evn)