Puluhan Tentara Yaman Tewas Diserang Saat Salat

CNN Indonesia | Senin, 20/01/2020 08:58 WIB
Puluhan Tentara Yaman Tewas Diserang Saat Salat Ilustrasi pemberontak Houthi di Yaman. Sebanyak 80 pasukan Yaman tewas saat salat akibat serangan roket dan drone pemberontak. (AFP PHOTO / MOHAMMED HUWAIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 80 pasukan Yaman dilaporkan meninggal akibat serangan yang diduga dilakukan kelompok pemberontak Houthi pada Sabtu (19/1) pekan lalu di Provinsi Marib. Mereka diserang ketika sedang menunaikan salat di masjid.

Seperti dilansir CNN, Senin (20/1), serangan itu dilakukan dengan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone). Menurut laporan Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yaman, 130 serdadu luka-luka dalam kejadian tersebut.

Serangan tersebut menghantam masjid yang berada di tengah markas pasukan Yaman. Menurut Kementerian Pertahanan Yaman, serangan tersebut ditujukan untuk membalas dendam atas kematian seorang jenderal Iran, Qasem Soleimani, yang tewas dalam serangan roket oleh pesawat nirawak AS pada 3 Januari lalu. Akan tetapi, mereka tidak memberikan bukti tuduhan tersebut.



Iran dilaporkan mendukung kelompok pemberontak Houthi. Sedangkan Presiden Yaman, Abdu Rabu Mansur Hadi, yang saat lari ke Arab Saudi untuk meminta perlindungan.

Menurut Hadi, serangan tersebut menunjukkan pemberontak Houthi pengecut dan layak disebut teroris. Kemenhan Yaman mengklaim pasukan mereka akan tetap kuat untuk melawan ambisi Iran untuk menggoyang stabilitas Yaman dan kawasan Timur Tengah.

Hingga berita ini dibuat, pemberontak Houthi belum memberikan pernyataan pertanggungjawaban atas serangan tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Perang saudara di Yaman sudah memanas sejak beberapa tahun belakangan. Saudi mulai ikut campur sejak 2015, ketika Hadi terpaksa kabur setelah Houthi menduduki Istana Kepresidenan di Sanaa.

Konflik ini pun disebut-sebut sebagai perang pion antara Saudi dan Iran di Timur Tengah karena sejumlah pihak menuding Teheran menyokong pergerakan Houthi.


Di sisi lain, perang itu membuat puluhan ribu rakyat Yaman meninggal akibat perang, kelaparan dan terjangkit wabah kolera sampai hari ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menganggap konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah. (ayp/ayp)