Pemberontak Houthi di Yaman Bebaskan 290 Tahanan

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 15:39 WIB
Pemberontak Houthi di Yaman Bebaskan 290 Tahanan Ilustrasi konflik Yaman. (AFP PHOTO / Mohammed HUWAIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komite Palang Merah Internasional (ICRC) melaporkan kelompok pemberontak Houthi di Yaman membebaskan 290 tahanan pada Selasa (30/9).

ICRC menuturkan ratusan tahanan yang dibebaskan itu termasuk puluhan napi yang selamat dari serangan koalisi Arab Saudi ke sebuah penjara awal September lalu.

Namun, ratusan angkatan bersenjata pro-pemerintah Yaman yang ditangkap Houthi pada Agustus lalu dikabarkan tidak masuk tahanan yang dibebaskan.



ICRC memuji langkah Houthi itu "sebagai perbuatan positif yang diharapkan mampu menghidupkan kembali pembebasan, pemindahan, dan pemulangan para tahanan terkait konflik" di bawah kesepakatan yang dicapai tahun lalu antara pemberontak dan pemerintah Yaman.

Dikutip AFP, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, Martin Griffiths, juga menyambut baik inisiatif Houthi "yang secara unilateral membebaskan para tahanan."

"Saya berharap langkah ini akan menggiring inisiatif-inisiatif lainnya yang bisa memfasilitasi pertukaran seluruh tahanan terkait konflik sesuai dengan Perjanjian Stockholm," kata Griffiths merujuk pada perjanjian yang disepakati pada 2018 lalu.

[Gambas:Video CNN]

Dia meminta seluruh pihak terkait konflik untuk bekerja sama mempercepat pembebasan tahanan. Griffiths mengatakan mereka dan keluarga mereka telah "mengalami rasa sakit dan penderitaan yang mendalam."

Dalam sebuah pernyataan, ia juga mendesak para pihak berkonflik untuk bertemu "dalam waktu dekat" untuk melanjutkan pembicaraan pertukaran tahanan di masa depan.

Sementara itu, Houthi sendiri mengumumkan telah membebaskan 350 tahanan termasuk tiga orang warga Saudi.


Pejabat Houthi yang bertanggung jawab atas urusan tahanan, Abdel Kader Mortaza, mengatakan kelompoknya mempersembahkan inisiatif pembebasan tahanan itu bagi PBB.

Perang sipil Yaman yang telah terjadi sejak 2015 lalu dilihat secara luas sebagai perang proxy antara Saudi dan Iran, dua kekuatan besar di Timur Tengah. Saudi selama ini membantu pemerintah Yaman untuk memberangus Houthi yang diduga disokong Iran.


Menurut kelompok kemanusiaan, hingga hari ini konflik sipil di Yaman telah merenggut puluhan ribu jiwa. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menganggap konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah. (rds/dea)