Koalisi Saudi Serang Pemberontak Yaman, 35 Orang Tewas

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 12:38 WIB
Koalisi Saudi Serang Pemberontak Yaman, 35 Orang Tewas Pasukan Koalisi Arab Saudi menyerang markas pemberontak Houthi di Yaman menewaskan 35 orang. (Ilustrasi/AFP PHOTO / Mohammed HUWAIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasukan Koalisi Arab Saudi membombardir Distrik Nehm, Ibu Kota Sanaa, Yaman, yang dikuasai pemberontak Houthi pada Selasa (21/1) kemarin. Serangan itu disebut sebagai balasan atas gempuran pemberontak terhadap markas pasukan Yaman di Provinsi Marib pada akhir pekan lalu.

Serangan udara dan meriam dari kedua belah itu dilaporkan menewaskan 35 orang.


Seperti dilansir Associated Press, Rabu (22/1), militer Yaman dan pemberontak Houthi saling balas serangan dengan roket dan artileri. Akibat baku tembak itu, sejumlah warga setempat mengungsi.


Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Abdu Abdullah Magli, mengklaim mereka sedikit demi sedikit berhasil merebut wilayah yang tadinya dikuasai pemberontak.

Jet tempur koalisi juga membombardir markas pemberontak di Provinsi Marib. Akibatnya sejumlah milisi tewas dan 25 orang lainnya berhasil ditangkap pasukan Yaman.

[Gambas:Video CNN]

Magli menyatakan serangan itu adalah balasan atas aksi pemberontak yang menyerang markas pasukan Yaman di wilayah itu. Korban tewas akibat serangan tersebut saat ini mencapai 116 orang, dan 68 serdadu luka-luka.

Iran dilaporkan mendukung kelompok pemberontak Houthi. Sedangkan Presiden Yaman, Abdu Rabu Mansur Hadi, lari ke Arab Saudi untuk meminta perlindungan.

Perang saudara di Yaman sudah memanas sejak beberapa tahun belakangan. Saudi mulai ikut campur sejak 2015, ketika Hadi terpaksa kabur setelah Houthi menduduki Istana Kepresidenan di Sanaa.


Konflik ini pun disebut-sebut sebagai perang pion antara Saudi dan Iran di Timur Tengah karena sejumlah pihak menuding Teheran menyokong pergerakan Houthi.

Di sisi lain, perang itu membuat puluhan ribu rakyat Yaman meninggal akibat perang, kelaparan dan terjangkit wabah kolera sampai hari ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menganggap konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah. (ayp/ayp)