Ekaterini Sakellaropoulou Jadi Presiden Wanita Pertama Yunani

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 18:47 WIB
Ekaterini Sakellaropoulou Jadi Presiden Wanita Pertama Yunani Ekaterini Sakellaropoulou menjadi presiden perempuan pertama Yunani. (Foto: Vassilis Rempapis / Eurokinissi / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Parlemen Yunani memilih Ekaterini Sakellaropoulou sebagai presiden perempuan pertama dalam sejarah.

Ketua parlemen, Costas Tassoulas mengatakan mayoritas anggota parlemen sekitar 261 dari 294 memilih Sakellaropoulou sebagai presiden.

"Ekaterini Sakellaropoulou telah terpilih sebagai presiden republik Yunani," ujar Tassoulas seperti dilansir AFP.


Pencalonannya sebagai presiden mendapat suara terbanyak dalam sejarah parlemen karena didukung oposisi sayap kiri Syriza dan partai sosialis KINAL.

Perempuan berusia 63 tahun itu saat ini menjabat sebagai kepala pengadilan administrasi tinggi Yunani dan Dewan Negara. Pengambilan sumpah jabatan presiden rencananya akan dilakukan pada 13 Maret mendatang.

Sakellaropoulou menggantikan Prokopis Pavloulos yang masa jabatannya berakhir pada Maret 2020. Pavloulos menjabat sebagai presiden selama lima tahun terakhir.

Ia merupakan anak hakim Mahkamah Agung, Sakellaropoulou. Ia merampungkan studi pascasarjana di Universitas Sorbonne, Paris.

[Gambas:Video CNN]

Selain menjadi presiden perempuan pertama, ia juga menjadi sosok perempuan pertama yang memimpin Dewan Negara.

Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis mengatakan Sakellaropoulou sebagai sosok hakim yang luar biasa. Pencalonan Sakellaropoulou bisa meyatukan warga Yunani dari berbagai latar belakang.

Mitsotakis menekankan seleksi kandidat presiden bukan hanya karena ia seorang perempuan, tetapi karena ia bukan anggota partai politik.

Sejauh ini Yunani kerap dipimpin oleh presiden dari partai politik atau mantan menteri.

"Sudah waktunya bagi Yunani untuk membuka diri ke masa depan," kata Mitsotakis saat mengajukan sosok Sakellaropoulou sebagai kandidat presiden.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Eurobarometer 2017 menemukan 63 persen orang Yunani beranggapan politik telah mengakomodir kesetaraan gender, 69 persen di tempat kerja dan 61 persen di posisi kepemimpinan.

Namun Eurostat mencatat di tahun yang sama selisih pendapatan kotor per jam antara pekerja pria dan wanita mencapai lebih dari 12 persen. Angka penganguguran perempuan tercatat lebih banyak dibandingkan laki-laki. (evn)