Anak Joe Biden Diusulkan Bersaksi di Sidang Pemakzulan Trump

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 09:13 WIB
Anak Joe Biden Diusulkan Bersaksi di Sidang Pemakzulan Trump Senator Republik, Ted Cruz, mengusulkan memanggil Hunter Biden dalam sidang pemakzulan Presiden AS, Donald Trump. (Brendan Smialowski / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Senator fraksi Republik, Ted Cruz, mengusulkan kepada majelis sidang pemakzulan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, supaya menghadirkan Hunter Biden untuk bersaksi. Hunter merupakan anak dari bakal calon presiden AS, Joe Biden, yang menjadi pesaing Trump dalam pemilihan presiden 2020.

Trump diduga untuk menekan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, agar mengabulkan permintaan Trump mengusut dugaan korupsi mantan anggota dewan komisaris perusahaan energi Burisma, Hunter Biden.


Hunter merupakan anak calon presiden Partai Demokrat Joe Biden yang akan menjadi rival Trump dalam pemilihan presiden pada November mendatang. Trump diduga melakukan upaya tersebut untuk menjegal karir politik Biden, yang dianggap menjadi calon pesaing terkuat dalam pilpres mendatang.


Ketika disinggung apakah Cruz akan mendesak voting untuk menentukan pemanggilan Hunter, senator asal Texas itu menyatakan keputusan sepenuhnya ada di tangan kuasa hukum Trump.

"Saya pikir Senat tidak harus memaksakan untuk memanggil saksi ketika pihak kuasa hukum presiden tidak memutuskan hal itu," kata Cruz, seperti dilansir CNN, Kamis (23/1).

Sidang pemakzulan Trump kembali dilanjutkan hari ini dengan agenda paparan argumen dari utusan Dewan Perwakilan. Sidang sempat terganggu karena ada seseorang yang menerobos dan berteriak di ruang sidang.

[Gambas:Video CNN]

Kendati begitu, orang tak dikenal tersebut langsung diamankan ke luar ruangan oleh petugas keamanan Kongres.

Perdebatan yang terjadi kali ini antara utusan DPR dan anggota mayoritas Senat dari fraksi Republik masih seputar desakan untuk memanggil sejumlah saksi dan dokumen.

Trump dimakzulkan pada 18 Desember 2019 oleh Dewan Perwakilan. Dia diduga menyalahgunakan kekuasaan dan berupaya menghalangi Kongres. Ia diduga sengaja menahan bantuan pertahanan untuk Ukraina sebesar US$391 juta pada Juli hingga September 2019.

Trump juga dituduh menghalangi Kongres dengan tidak memberikan akses dokumen kepada panitia khusus. Ia memerintahkan orang-orang yang dipanggil DPR untuk tidak hadir.


Trump adalah presiden AS ketiga yang menjalani proses pemakzulan setelah Andrew Johnson (1868) dan Bill Clinton (1999). Namun, seperti dua pendahulunya, nampaknya Trump tidak akan sampai dilengserkan karena kubu mayoritas di senat sepertinya akan berpihak kepadanya. (ayp/ayp)