Karhutla Australia Kembali Membara, Bandara Canberra Ditutup

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 13:03 WIB
Karhutla Australia Kembali Membara, Bandara Canberra Ditutup Kebakaran kebali berkobar di Australia sehingga berimbas pada penutupan bandara Canberra. (Foto: Saeed KHAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebakaran hutan kembali terjadi di dekat ibu kota Australia, Canberra pada Kamis (23/1). Kondisi ini memaksa bandara Canberra ditutup sementara sehingga berimbas pada jadwal penerbangan domestik dan internasional.

Lembaga penerbangan bandara Canberra mengatakan kondisi temperatur tinggi dan angin kencang memicu kobaran api baru di sejumlah kawasan di Australia timur.

"Sejumlah jadwal penerbangan dari dan ke Canberra dihentikan sementara untuk memberi kesempatan bekerja bagi tim pemadam kebakaran," ungkap juru bicara bandara Canberra kepada AFP.




Lewat akun Twitter resmi, bandara Canberra mengumumkan sejauh ini belum mengevakuasi. Penumpang yang terkena imbas diminta menghubungi pihak maskapai penerbangan untuk mendapat informasi lebih lanjut.

Belum diketahui berapa lama layanan penerbangan akan berdampak.

Badan Layanan Darurat Wilayah Canberra mengatakan bandara ditutup karena kondisi saat ini yang tidak memungkinkan.

Api dilaporkan kembali berkobar di selatan bandara Canberra, hingga Kamis siang pemerintah setempat meningkatkan status menjadi darurat.

[Gambas:Video CNN]

Warga yang berada di pinggiran kota diimbau untuk melakukan evakuasi.

"Api dapat menimbulkan ancaman bagi warga. Orang-orang yang berada di pinggiran kota dalam bahaya dan perlu mencari tempat aman," imbau Badan Layanan Darurat Wilayah Canberra.

Kali ini merupakan pertama kalinya operasional bandara dihentikan sejak kebakaran hutan terjadi pada November 2019.

Sejauh ini api dilaporkan telah membakar lebih dari 140 hektare area dekat bandara Canberra. Api dilaporkan mulai menjalar ke sisi barat bandara.

Sejak November lalu, Australia dihadapkan pada bencana kebakaran hutan terparah dan terbesar mencapai lebih dari 7,3 hektare. Setidaknya 28 orang tewas, lebih dari 3.000 rumah dan bangunan rusak, dan sejumlah spesies hewan asli terancam punah lantaran pasokan makanan habis terbakar.

Hujan yang mulai turun dalam beberapa hari terakhir tidak signifikan memadamkan kobaran, tetapi hanya menurunkan titik api. Tim pemadam kebakaran menyebut hujan justru memicu masalah baru seperti banjir dan potensi longsor. (AFP/evn)