Lindungi Pasukan dari Rudal Iran, AS Kerahkan Patriot ke Irak

CNN Indonesia | Jumat, 31/01/2020 12:25 WIB
Amerika Serikat akan mengerahkan sistem rudal Patriot untuk melindungi tentara mereka yang berada di Irak dari serangan Iran. Sistem rudal Amerika Serikat, Patriot. (JACK GUEZ / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat akan mengerahkan sistem rudal Patriot untuk melindungi tentara mereka yang berada di Irak dari serangan Iran.

Sekretaris Pertahanan AS Mark Esper meminta persetujuan pemerintah Irak agar bisa secepatnya meluncurkan Patriot.


Sistem rudal Patriot bekerja meningkatkan performa radar dan mencegat rudal balistik yang ada dalam jangkauan. 


"Kita perlu persetujuan dari Irak, namun nampaknya belum ditanggapi," ujar Esper, dilansir dari AFP, Jumat (31/1).

Kepala Staf Gabungan AS Mark Milley mengatakan operasional Patriot dilakukan dengan mekanisme besar maka dari itu membutuhkan persiapan matang.

[Gambas:Video CNN]

"Tentu harus kita lakukan, dan sekarang sedang dikerjakan," ujarnya.

Rudal Patriot diklaim mampu menangkis rudal balistik taktis dan ancaman udara seperti pesawat dan rudal jelajah.

Mengutip laman resmi Army Technology, sistem pertahanan Patriot memiliki empat rudal untuk setiap peluncur.


Rudal kemudian disimpan dan diluncurkan dari tabung aluminium yang dipasang pada trailer menggunakan casis 8x8. Setiap unit Patriot, memiliki truk pembangkit listrik dengan dua generator 150-KW.

Pasukan AS di pangkalan militer Irak berkali-kali dihantam serangan rudal.

Beberapa pekan lalu Iran meluncurkan 11 rudal ke basis AS di Ain al-Assad. Pada 8 Januari lalu, Iran juga meluncurkan rudal di Pangkalan Erbil, sebagai tindakan balas dendam atas kematian perwira tinggi militer senior Mayor Jenderal Qasem Soleimani.


Tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut, namun tentara AS yang bertugas di sana mengalami cedera otak traumatis. 

Saat ini ada 5.200 prajurit AS yang bertugas di Irak. Mereka menjadi bagian dari koalisi internasional yang diundang Irak pada 2014 silam untuk melawan ISIS di mana saat itu telah menguasai sepertiga wilayah, terutama Suriah. Koalisi pimpinan AS itu beranggotakan 76 negara. (mel/dea)