Trump Sanjung Oposisi Venezuela saat Pidato Kenegaraan

CNN Indonesia | Kamis, 06/02/2020 02:39 WIB
Trump Sanjung Oposisi Venezuela saat Pidato Kenegaraan Presiden AS, Donald Trump, menyanjung pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, dalam pidato kenegaraan. (Mark Wilson/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, hadir di Gedung Kongres Amerika Serikat untuk menyaksikan pidato kenegaraan Presiden Donald Trump. Guaido memang disebut beberapa kali berupaya bertemu langsung dengan Trump untuk memperkuat posisi politiknya di mata seterunya yang merupakan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (5/2), saat membacakan pidatonya, Trump turut menatap Guaido yang duduk di kursi undangan.

"Beliau (Guaido) adalah presiden sah Venezuela. Sosialisme menghancurkan bangsa," kata Trump.


Guaido pun lantas bangkit dari tempat duduknya dan memberikan tepuk tangan atas sambutan Trump.

Perseteruan Guaido dan Maduro sampai saat ini terus berlangsung. Hal itu membuat krisis multidimensi di Venezuela semakin memburuk.

Tingkat inflasi di Venezuela tak terkendali dan nilai mata uang mereka anjlok. Tingkat pengangguran dan kemiskinan semakin tinggi dan membuat jutaan warga Venezuela mengungsi ke sejumlah negara tetangga mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

[Gambas:Video CNN]
Berbau kampanye


Pidato kenegaraan Trump sepanjang 78 menit itu dinilai sarat dengan materi kampanye. Dia mendengungkan slogan "Kembalinya Kedigdayaan Amerika" setelah tiga tahun berkuasa.

"Musuh-musuh Amerika bersembunyi, kesejahteraan Amerika sedang tumbuh, dan masa depan Amerika sangat cerah," kata Trump disambut riuh tepuk tangan para politikus Partai Republik.

Trump kembali menyinggung soal klaim rendahnya tingkat pengangguran, membantu mengangkat kesejahteraan kelas pekerja dibandingkan dengan pendahulunya, Barack Obama.

Padahal menurut para pakar ekonomi hal itu adalah warisan dari Obama. Sebab, pertumbuhan ekonomi di era Trump tercatat mencapai 2,3 persen pada 2019, persis ketika Obama mengakhiri masa kepemimpinan yang kedua. (ayp/ayp)