Nancy Pelosi, dari Ibu Rumah Tangga hingga Ketua DPR AS

CNN Indonesia | Kamis, 06/02/2020 14:05 WIB
Nancy Pelosi, dari Ibu Rumah Tangga hingga Ketua DPR AS Ketua DPR AS Nancy Pelosi. (AP Photo/Patrick Semansky)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Nancy Pelosi semakin dikenal setelah memakzulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Dewan Perwakilan, meski usaha tersebut kandas di tingkat Senat.

Pelosi ramai diperbincangkan setelah merobek naskah pidato Trump di depan umum saat sang presiden menyampaikan pidato kenegaraan atau State of the Union di Gedung Capitol Hill pada Selasa (4/2). Usai berpidato, Trump tertangkap kamera menolak menjabat tangan Pelosi.

Pelosi merupakan perempuan pertama yang pernah memimpin DPR AS. Sosok yang dianggap perempuan paling berpengaruh di Washington itu kembali terpilih sebagai Ketua DPR pada Januari 2019.


Wanita bernama lengkap Nancy D' Alesandro Pelosi itu sempat duduk di jabatan serupa pada 2007-2011.

Dalam periode kedua ini, Pelosi menghadapi tantangan yang cukup sulit lantaran beroposisi dengan pemerintahan Trump. Salah satu kritikus vokal Trump itu kerap bersilat lidah terutama dalam merumuskan kebijakan negara.


Perempuan 79 tahun itu menanggap Trump tidak pantas menjabat sebagai presiden lantaran serangkaian pernyataan dan sikapnya yang kontroversial bahkan tak sesuai moral dan hukum.

Pelosi yang lahir pada 26 Maret 1940 itu sebelumnya tak pernah berpikir untuk terjun ke dunia politik meski masa mudanya banyak membantu kampanye sang ayah yang merupakan politikus Partai Demokrat dan sempat menjabat sebagai Gubernur Baltimore, Maryland.

Pelosi memulai pergaulan politik di awal 1970-an setelah pindah ke San Francisco dan berteman dengan anggota Kongres AS, Phillip Burton. Sejak itu, ia mulai mengenal dan dekat dengan istri Burton, Sala.

Saat itu, ia telah menikah dengan Paul Pelosi di mana keduanya bertemu saat sama-sama berkuliah di Washington.

[Gambas:Video CNN]

Paul bekerja sebagai banker, sementara Pelosi menjadi ibu rumah tangga dan menjaga kelima anak-anak mereka.

Pada 1976, Pelosi terpilih menjadi anggota Komite Nasional Partai Demokrat dari California sampai 1996. Pada 1977, perempuan lulusan ilmu politik Trinity College itu terpilih menjadi pemimpin Partai Demokrat daerah California Utara.

Empat tahun kemudian, Pelosi terpilih sebagai Ketua DPD Partai Demokrat negara bagian California sampai 1983.

Pelosi memulai karier di Kongres AS sekitar 1983. Setelah Burton meninggal, sang istri, Sala, menggantikannya sebagai anggota Kongres di tahun tersebut.

Selang beberapa tahun, Sala mengidap kanker dan meminta Pelosi untuk menjadi penggantinya dalam pemilihan Kongres pada 1988.

Sala menjamin bahwa dia akan mengerahkan seluruh jaringan keluarga Burton untuk mendukung Pelosi dalam pemilihan itu. Sala meninggal pada 1 Februari pada 1987, sebulan setelah dirinya dilantik sebagai anggota Kongres untuk kedua kalinya.


Pelosi mencalonkan diri dan lalu menang dalam pemilihan khusus untuk memenuhi kursi Sala yang kosong pada 2 Juni 1987 setelah mengalahkan politikus Partai Republik, Harriet Ros.

Sejak itu, Pelosi terus terpilih dalam pemilihan anggota Kongres sebanyak 16 kali. Dalam pemilihan sela 2006, kaukus Partai Demokrat, yang saat itu mendominasi DPR AS, memilih Pelosi sebagai perwakilan partai untuk menjadi pimpinan DPR AS.

Pelosi berhasil mengalahkan rivalnya dari Partai Republik dengan perolehan 233 lawan 202 suara dan menjadi perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR AS.

Tak hanya itu, kemenangan Pelosi juga menjadikannya sebagai warga California dan warga keturunan Italia-AS pertama menduduki jabatan tertinggi di DPR.

Pelosi kembali terpilih sebagai Ketua DPR AS pada pemilihan sela 2018 lalu. Saat itu, DPR AS juga didominasi Partai Demokrat.

Mengingat ke belakang tentang perjalanan kariernya, nenek dari 9 cucu itu mengaku sempat merasa khawatir karena memegang begitu banyak jabatan dan kekuasaan. Mulai dari jabatan di Kongres, DPR, hingga di Partai Demokrat.


Ia sempat bercerita terkait kekhawatirannya itu kepada rekannya sesama anggota Kongres, Lindy Boggs. Kepada Boggs, Pelosi sempat berpikir akan mundur dari beberapa jabatan yang ia pegang sekarang.

"Waktu itu sekitar tahun 1984 dan Ibu Boggs mengatakan kepada saya, 'Sayang, tidak ada orang yang akan berpikir (menyerahkan jabatannya) seperti itu. Jangan menyerahkan jabatan apa pun. Kenali jabatanmu'," kata Pelosi mengulang perkataan Buggs kepadanya seperti dilansir dari The New York Times. (rds/dea)