Arab Saudi Cegat Rudal Houthi yang Sasar Sejumlah Kota

CNN Indonesia | Sabtu, 22/02/2020 02:22 WIB
Arab Saudi Cegat Rudal Houthi yang Sasar Sejumlah Kota Ilustrasi. Arab Saudi mengatakan berhasil mencegat ruudal yang ditembakkan kelompok pemberontak Houthi di Yaman. (Foto: Maxime POPOV / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi militer Arab Saudi di Riyadh menyatakan berhasil mencegat sejumlah peluru kendali yang ingin menargetkan beberapa kota di negara kaya minyak tersebut, Jumat (21/2).

Melalui pernyataan yang dirilis di kantor berita SPA, koalisi militer mengatakan rudal-rudal itu ditembakkan oleh kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran, musuh bebuyutan Saudi.

"Rudal-rudal itu diluncurkan secara sistematis, sengaja untuk menargetkan kota-kota dan warga sipil yang merupakan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional," kata juru bicara koalisi Turki al-Maliki seperti dilansir AFP.


"Ibu kota Yaman, Sanaa, telah menjadi tempat perkumpulan atau basis Houthi dan meluncurkan rudal-rudal balistik dari kota itu yang menargetkan kerajaan."

Sejak perang sipil Yaman berkecamuk pada 2015, kelompok pemberontak Houthi kerap meluncurkan sejumlah rudal terhadap Saudi. Houthi bahkan beberapa kali meluncurkan rudal yang menyasar Kota Makkah dan Riyadh.

Namun, sebagian besar rudal berhasil dicegat militer Saudi.

Perang sipil di Yaman disebut-sebut sebagai perang proxy atau perang pion antara Saudi dan Iran di Timur Tengah. Sejak lama, Iran disebut mendukung kelompok Houthi yang ingin menjatuhkan pemerintahan resmi Yaman.

[Gambas:Video CNN]

Iran bahkan disebut kerap memasok berbagai senjata hingga rudal bagi Houthi, sebuah tudingan yang berulang kali ditolak Teheran.

Sementara itu, Arab Saudi dan koalisinya yang terdiri dari beberapa negara Arab juga ikut serta dalam perang di Yaman untuk membantu pemerintahan Presiden Abdu Rabu Mansur Hadi mempertahankan kekuasaan dan tekanan Houthi.

Di sisi lain, perang hingga hari ini membuat puluhan ribu rakyat Yaman meregang nyawa akibat perang, kelaparan, dan terjangkit wabah kolera.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menganggap konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah. (rds/evn)