Perjuangan Warga Wuhan Sebulan Terisolir Akibat Corona

CNN Indonesia | Senin, 24/02/2020 16:44 WIB
Perjuangan Warga Wuhan Sebulan Terisolir Akibat Corona Warga Wuhan berupaya bertahan hidup di tengah keterbatasan akibat infeksi virus corona. (Foto: HECTOR RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Wuhan dan sejumlah kota di Provinsi Hubei, China hingga kini hidup terisolir lantaran akses keluar dan masuk kota ditutup. Di sisi lain, warga berjuang untuk tetap bertahan hidup di tengah ancaman merebaknya wabah virus corona.

Guo Jing (29), salah satu warga yang berada di Wuhan mengatakan ia hanya menggantungkan diri dengan layanan belanja daring untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia mengatakan tidak ada pilihan lain lantaran tidak bisa keluar rumah.

"Hidup selama sebulan lagi nampaknya bukan sebuah masalah," ujar Guo kepada AFP seraya mengatakan ia memiliki pasokan bahan makanan yang memadai tanpa perlu keluar rumah.


Ia mengaku bukan pasokan makanan yang menjadi kekhawtiarannya. Guo mengatakan hal yang paling dikhawatirkan yakni rendahnya kendali pemerintah karena seluruh kota ditutup dan aktivitas warga dibatasi setiap tiga hari sekali.

Berbeda dengan Guo, Pan Hongsheng mengaku bingung dengan kondisi kota Wuhan yang masih diisolir. Hongseng yang hidup bersama istri dan dua anaknya mengaku bingung memenuhi kebutuhan hidup.

"Saya masih tidak tahu di mana harus membeli barang setelah makanan yang kami nikmati habis," kata Hongseng.

Beberapa lingkungan sejauh ini telah menginisiasi layanan belanja skala besar sehingga supermarket akan mengirimkan ke alamat pemesan. Hanya saja, layanan itu belum bisa dinikmati oleh seluruh warga Wuhan.

"Saya merasa seperti seorang pengungsi karena tidak ada yang peduli. Stok susu untuk anak saya sudah habis. Saya bahkan tidak bisa mengirimkan obat untuk mertua yang berusia 80 tahun dan berada di daerah lain," ujarnya menambahkan.

[Gambas:Video CNN]

Guo dan Hongseng merupakan sedikit dari 11 juta warga Wuhan yang kini hidup terisolir sejak 23 Januari lalu. Selama sebulan terakhir, pemerintah China masih memberlakukan aturan untuk menutup kota Wuhan dari dunia luar.

Di bawah aturan tersebut, warga dilarang untuk meninggalkan lingkungan mereka. Larangan ini menjadi ancaman karena tidak sedikit warga yang berpotensi kehilangan mata pencaharian mereka.

Lonjakan pesanan belanja daring

Larangan untuk keluar ruamh berpengaruh signifikan terhadap lonjakan transaksi daring. Dua raksasa e-commerce asal China, JD dan Pinduoduo mencatat peningkatan transaksi dalam sebulan terakhir.

Hanya saja, permasalahan lain mengintai. Tingginya pesanan tak diiringi dengan jumlah tenaga kerja yang memadai untuk keperluan pengiriman.

Disamping bahan makanan, warga Wuhan juga banyak memesan tisu toiler dan minuman ringan. Dalam sehari, rata-rata seorang sopir e-commerce mengirimkan 150 hingga 190 pesanan.

Wang Feng, salah satu warga Wuhan mengakui jika perusahaan belanja daring yang masih beroperasi hingga kini sangat membantu ia dan warga lain bertahan hidup.

"Mereka [kurir e-commerce] bekerja sangat keras dan itu sangat berbahaya. Tanpa layanan mereka, kita tidak akan bisa bertahan sama sekali," ujar Wang seperti mengutip Associated Press.

Pemerintah telah memberikan izin operasional pasar tradisional untuk memastikan pasokan bahan baku warga terpenuhi. Hanya saja, warga memilih untuk tidak keluar rumah di tengah kekhawatiran penyebaran virus corona.

Selain belanja melali situs e-commerce, warga yang berada di satu lingkungan perumahan secara kolektif berbelanja melalui aplikasi WeChat. Supermarket akan menyediakan paket kebutuhan berupa daging, sayuran, susu, hingga mie untuk dikirimkan ke pembeli.

Seperti halnya e-commerce, supermarket lokal juga kekurangan karyawan untuk menangani lonjakan pesanan. Tak hanya itu, pengusaha supermarket juga berpacu dengan waktu untuk menyediakan pasokan bahan segar dan menjaganya agar tidak mudah busuk. (AFP/ AP/evn)