Mahathir Bantah Tuduhan Tolak Serahkan Kuasa ke Anwar Ibrahim

CNN Indonesia | Rabu, 26/02/2020 16:40 WIB
Mahathir Bantah Tuduhan Tolak Serahkan Kuasa ke Anwar Ibrahim PM Interim Malaysia, Mahathir Mohamad, membantah tuduhan menolak menunaikan janji menyerahkan jabatan kepada Presiden PKR, Anwar Ibrahim. (Behrouz MEHRI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mahathir Mohamad membantah alasan dirinya mundur sebagai Perdana Menteri Malaysia adalah karena "gila kuasa" dan enggan menyerahkan jabatan kepada Presiden Partai Keadilan Rakyat, Anwar Ibrahim, sesuai janji politiknya pada pemilu 2018 lalu.

Dalam pidato pertamanya pasca-pengunduran diri, Mahathir, yang ditunjuk Raja Malaysia untuk menjadi PM interim, menganggap jabatan baginya adalah alat untuk mencapai tujuan demi kebaikan negara.


"Terdapat tuduhan bahwa saya tidak berniat untuk melepas jabatan dan gila kuasa. Maka saya letakan jabatan karena saya tidak melihat kekuasaan jabatan itu sebagai 'be all and end all' adalah matlamat saya," kata Mahathir dalam pidatonya yang disiarkan di stasiun televisi Malaysia, Rabu (26/2).


"Bagi saya kedudukan dan kekuasaan itu adalah 'means to an end' atau pun satu alat untuk mencapai objektif dan objektif kita semua tentulah untuk kebaikan negara," paparnya menambahkan seperti dikutip kantor berita Bernama.

Dalam pidatonya, pemimpin berusia 94 tahun itu juga meminta maaf kepada semua rakyat Malaysia jika keputusannya itu membuat kekacauan politik di Negeri Jiran dan meresahkan warga.

Mahathir juga mengatakan pengunduran dirinya itu sengaja dilakukan demi memberikan Dewan Rakyat (parlemen Malaysia) untuk mencari penggantinya.

"Tapi jika saya masih didukung (dengan suara mayoritas) saya akan kembali. Jika tidak saya akan terima siapa saja yang terpilih (menggantikan saya)," kata Mahahtir.



Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agung Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, menyetujui surat pengunduran diri yang diajukan Mahathir pada Senin lalu.

Namun, Raja Abdullah menunjuk Mahathir sebagai perdana menteri sementara (interim) untuk menjalankan pemerintahan sampai terpilih perdana menteri dan kabinet baru terbentuk.

Pengunduran diri Mahathir diduga terkait dengan gerakan politik yang berupaya membentuk koalisi baru dengan merekrut anggota Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), UMNO, Partai Islam SeMalaysia (PAS) dan faksi PKR yang dipimpin oleh mantan wakil PKR, Mohamad Azmin Ali.

PKR lantas memutuskan memecat Azmin dan sejawatnya, Zuraida Kamaruddin, yang dianggap berkhianat. Hal ini adalah buntut perseteruan politik internal antara Anwar dan Azmin sejak beberapa waktu lalu.

[Gambas:Video CNN]

Dalam dialog dengan Anwar, Mahathir mengklaim tidak terlibat dengan upaya untuk membentuk koalisi pemerintahan baru dengan merekrut kelompok oposisi. Sebab jika hal itu terjadi, maka koalisi Pakatan Harapan yang saat ini berkuasa bisa tumbang karena tidak meraih dukungan mayoritas di parlemen.

Jika demikian, maka janji Mahathir untuk menyerahkan kekuasaan tidak terlaksana dan Anwar bisa gagal menjadi perdana menteri (rds/ayp)