Brazil Umumkan Kasus Corona Pertama di Amerika Latin

CNN Indonesia | Rabu, 26/02/2020 23:35 WIB
Brazil Umumkan Kasus Corona Pertama di Amerika Latin Ilustrasi penanganan virus corona. Kemenkes Brazil mengumumkan seorang pria 61 tahun penduduk Sao Paulo positif virus corona usai bepergian ke Italia. (Chinatopix via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Kesehatan Brazil menyatakan pada Rabu (26/2) bahwa seorang penduduk Sao Paulo telah terdiagnosis positif virus corona Covid-19. Hal ini menjadikan kasus pertama virus corona di Amerika Latin.

Menteri Kesehatan Brazil Luiz Henrique Mandetta mengatakan pasien pertama virus corona di negaranya adalah seorang pria berusia 62 tahun warga Sao Paulo yang berpenduduk 12 juta jiwa.

Pria tersebut diketahui baru kembali ke Brazil pada 21 Februari lalu dari Italia yang kini menjadi episentrum wabah virus corona di benua Eropa.


Mandetta mengatakan pihaknya tengah mencoba mengidentifikasi warga yang telah berkontak dengan si pasien, termasuk keluarga yang bersangkutan.


Pria lansia itu sebelumnya sempat datang ke doktor dengan keluhan gejala flu. Kini ia dirawat di ruang isolasi, namun disebut ia dalam kondisi baik.

Selain itu, pejabat Kemenkes Brazil Wanderson Kleber de Oliveira mengatakan sebanyak 20 kasus lain di negara tersebut masih dalam proses investigasi.

Sebanyak 12 dari 20 kasus tersebut diketahui baru saja bepergian dari Italia, sementara satu orang baru dari China yang menjadi sumber awal wabah virus corona Covid-19.

Sebelum mengonfirmasi kasus virus corona pertama di Brazil, Mandetta sempat berbicara kepada radio CBN dan menganggap virus tersebut sebagai "flu" sederhana.


"Kita perlu lebih kalem, ini sebuah flu dan kami akan mengatasinya," kata Mandetta.

Akan tetapi, ia menambahkan bahwa Covid-19 adalah virus yang muncul di musim dingin Bumi belahan utara, dan tak ada cara untuk memprediksi reaksi virus itu di musim panas Bumi bagian selatan seperti di Brazil.

"Bisa saja lebih baik, atau lebih buruk," katanya.

Hingga saat ini, virus corona Covid-19 telah membunuh lebih dari 2.700 orang dan menginfeksi lebih dari 80 ribu orang yang sebagian besar berada di China.


[Gambas:Video CNN]


(AFP/end)