Kisah WNI Hidup di Tengah Isolasi Kota Wuhan

CNN Indonesia | Sabtu, 14/03/2020 07:35 WIB
Kota Wuhan hingga kini masih diisolir terkait virus corona. (Foto: Hector RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah infeksi virus corona di China dalam sepekan terakhir dilaporkan menurun drastis. Rumah sakit darurat yang dibangun khusus untuk menangani pasien Covid-19 pun sudah mulai mengurangi aktivitas.

Komisi Kesehatan Kesehatan China (NHC) melaporkan jumlah pasien yang sembuh dan diizinkan pulang saat ini mencapai 64.111 orang. Kendati demikian, China masih menjadi negara dengan pasien corona tertinggi dengan 80.813 orang dan 3.176 kematian.

Laporan pasien positif corona di China hanya delapan orang orang, lima di antaranya berasal dari Wuhan. Sementara, pasien yang baru meninggal berjumlah tujuh orang.


Penurunan tersebut diduga imbas dari penutupan dan pembatasan aktivitas di Kota Wuhan dan Provinsi Hubei. Sejak 23 Januari lalu, pemerintah China memberlakukan kebijakan isolasi, khususnya bagi warga Wuhan untuk melawan penyebaran virus corona.

Dela Afifania, warga asal Indonesia yang tinggal di Wuhan mengaku bosan setelah pemerintah China dan pihak universitas memberlakukan isolasi bagi warga kota.

Mahasiswa S3 ini mengaku kebijakan isolasi kampus membuat ia tak bisa keliling gedung lantaran harus tinggal di asrama dan tak diperbolehkan keluar.

[Gambas:Video CNN]

Sebagai gantinya, Wuhan University of Technology, tempatnya belajar menerapkan kelas daring (online) melalui aplikasi bagi seluruh mahasiswanya.

"Gara-gara virusnya itu, maka dia (kelas perkuliahan) jadi online. Satu semester ini kayaknya," tutur Dela saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (12/3).

Akibatnya, ia harus menghabiskan waktu sekitar empat jam duduk di depan komputer selama kelas berlangsung.

Kisah WNI Hidup di Tengah Isolasi Kota WuhanFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Ketika dilanda jenuh, ia mencoba untuk berlari menaiki dan menuruni tangga di dalam gedung asrama setinggi enam lantai. Namun, ia mengaku suasana yang dirasakan berbeda dengan berlari di ruangan terbuka sekitar universitas.

Dela merupakan satu dari tujuh WNI yang masih tinggal di China. Sekitar tiga warga Indonesia yang masih berada di Wuhan tidak bisa kembali karena tidak lolos pemeriksaan kesehatan.

Tak hanya mengisolasi, pemerintah China juga mengeluarkan pembatasan perjalanan secara drastis untuk menekan penularan virus corona. Imbasnya, layanan transportasi publik seperti kereta dan bus pun terhenti.

Dela menuturkan gedung asrama tempat tinggalnya yang berlokasi di daerah Wuchang baru memberlakukan isolasi sejak dua minggu yang lalu.

Ia mengatakan, pihak universitas menutup asrama demi menghindari penyebaran virus corona. Sebab hingga saat ini tidak ada satu pun orang yang dinyatakan terinfeksi virus di sana.

"Alasannya gini, dia bilang karena di dormitori ini enggak ada yang sakit, mereka mau tutup. Supaya kita aman," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Di Wuhan daerah yang terdampak corona paling parah yakni Hankou, berjarak sekitar satu jam berkendara dari Wuchang - tempatnya tinggal.

Pasokan makanan memadai

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2