Membedah Kebijakan Lockdown di Negara Lain Hadapi Corona

CNN Indonesia | Rabu, 18/03/2020 16:00 WIB
Sejumlah negara mengadopsi kebijakan lockdown yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencegah penyebaran virus corona. Situasi pembatasan (lockdown) di Malaysia. (AP Photo/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan juta orang di beberapa negara saat ini tidak lagi bebas bepergian. Semua itu terjadi setelah sejumlah negara yang memberlakukan lockdown atau penutupan wilayah demi meredam penyebaran virus corona (Covid-19).

Sebagai pusat penyebaran virus corona, Kota Wuhan di China menerapkan lockdown sejak 23 Januari lalu. Semua transportasi umum, termasuk bus, kereta, penerbangan, hingga perjalanan kapal feri dihentikan sementara. Penduduk di Wuhan juga dilarang keluar kawasan tanpa izin dari pihak berwenang.

Tak lama, 12 kawasan lain yang terhubung langsung dengan Wuhan juga menerapkan lockdown serupa. Pemerintah China kemudian memperluas aturan dengan menutup semua perusahaan tak strategis dan seluruh sekolah di Provinsi Hubei setidaknya sampai 10 Maret.


Dengan lockdown dan sederet upaya lain oleh pemerintah China, tingkat peningkatan jumlah infeksi virus corona di Wuhan menurun drastis.


Kini, secara keseluruhan China mencatat kasus corona sebanyak 81.074 dan korban meninggal 3.241 orang. Sementara itu, 69.703 pasien dinyatakan sembuh.

Meski begitu, penyebaran virus secara global justru meningkat. Data Universitas Johns Hopkins menunjukkan ada 197.496 kasus yang tersebar di seluruh dunia.

Beberapa negara mengekor kebijakan lockdown yang dilakukan China. Namun, tiap negara memiliki mekanisme yang berbeda-beda dalam menerapkan kebijakan lockdown. Mulai dari menutup perbatasan wilayah hingga melarang seluruh warganya keluar rumah.

CNN melaporkan, pengambilan tindakan sebagian tergantung pada tingkat keparahan epidemi dan kemampuan penanganan di setiap negara.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), masih belum menerapkan kebijakan lockdown. Jokowi berpendapat bahwa hal terpenting dalam pencegahan penyebaran virus corona saat ini adalah mengurangi mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat lain.

[Gambas:Video CNN]

Kendati demikian, pengamat dari Universitas Indonesia, Andri W Kusuma, menyatakan bahwa lockdown harus dilakukan agar pemerintah tidak terlambat mencegah penyebaran virus corona.

Menurutnya, kebijakan lockdown harus ditetapkan pemerintah karena ketimpangan informasi, sumber daya, peralatan kesehatan, hingga tenaga medis. Pemerintah sudah semestinya lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan masyarakat dibandingkan stabilitas ekonomi.

Andri berharap kebijakan lockdown bukan sekadar imbauan, tetapi harus dalam bentuk mengikat dan memaksa melalui instruksi presiden (inpres) atau keputusan presiden (keppres).

Menutup perbatasan

Setelah Wuhan, Italia menjadi negara dengan peningkatan jumlah kasus virus corona paling tinggi, yakni 31.506 kasus. Pemerintah Italia pun mulai menerapkan lockdown di kawasan utara. Kebijakan tersebut kemudian diperluas hingga ke seluruh penjuru negara pada 9 Maret lalu dengan menutup semua perbatasan.

Spanyol, Prancis, dan Denmark kemudian menjadi negara Eropa selanjutnya yang mengekor kebijakan Italia. Mereka mulai memberlakukan lockdown awal pekan ini.

Di samping itu, Uni Eropa juga menutup seluruh perbatasan luarnya selama 30 hari, khususnya bagi perjalanan yang tidak berkepentingan. Keputusan ini untuk mendorong negara-negara anggota lainnya yang ada di Eropa agar kompak dalam membuat kebijakan menghadapi penyebaran corona.

Beberapa negara juga mulai menyetop penerbangan dari dan ke Eropa, seperti AS. Venezuela melarang penerbangan dari dan ke Eropa, Kolumbia, Panama, dan Republik Dominika. Sama seperti langkah Argentina dan Kolumbia yang juga memberlakukan kebijakan penangguhan perjalanan.
Ragam Kebijakan Lockdown di Negara Lain Hadapi Virus CoronaSituasi Italia di tengah pandemi virus corona. (AP Photo/Francisco Seco)
Di kawasan Asia, Korea Utara telah lebih dulu mengisolasi seluruh wilayahnya, meski belum melaporkan satupun kasus virus corona. Mereka tak memperbolehkan turis dari luar negeri untuk masuk dan melarang sementara penerbangan internasional. Begitupun Libanon yang baru akan menutup bandara, perbatasan, dan pelabuhan mulai 29 Maret mendatang.

Selanjutnya, pemerintah Filipina dan Mongolia mulai memberlakukan lockdown di ibu kota, serta tak mengizinkan siapapun keluar masuk wilayah masing-masing.

Malaysia kemudian mengikuti dengan mengisolasi seluruh negeri, termasuk dengan negara tetangga Singapura. Termasuk warga Malaysia yang setiap hari bolak-balik bekerja atau sekolah di Singapura.

Di Irak, seluruh moda transportasi umum dihentikan dan mereka menutup perbatasan dengan Iran. Begitupun dengan Iran yang menutup seluruh wilayahnya menyusul angka kematian akibat corona yang semakin tinggi.

Transportasi Umum hingga Libatkan Tentara

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK