SUDUT CERITA

Kisah WNI Merasakan Lockdown Virus Corona di Malaysia

CNN Indonesia | Rabu, 18/03/2020 20:01 WIB
Dua WNI yang bermukim di Malaysia mengatakan pemerintah setempat terbuka dalam memberi pembaruan informasi terkait virus corona saat lockdown. Dua WNI yang bermukim di Malaysia mengatakan pemerintah setempat terbuka dalam memberi pembaruan informasi terkait virus corona saat lockdown. (AP Photo/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang warga Indonesia (WNI) yang tinggal di Malaysia, Ali Fauzi, mengaku tidak heran jika pemerintah Negeri Jiran menerapkan kebijakan pembatasan pergerakan (lockdown) bagi warga untuk menekan penularan virus corona mulai hari ini, Rabu (18/3).

Sebab, penyebaran virus corona (Covid-19) di Malaysia dinilai sudah mengkhawatirkan. Pada hari ini Malaysia mencatat ada 673 kasus virus corona dengan dua kematian.

"Kaget sih tidak ya karena sebelum pemerintah Malaysia melakukan lockdown kami sudah mendengar rencana itu dari pemberitaan di media. Tapi perasaan was-was memang ada hanya kita harus selalu mengikuti perkembangan berita dan tata cara menjaga kebersihan dalam sikon (situasi dan kondisi) seperti ini," kata Ali saat bercerita kepada CNNIndonesia.com.


Ali yang sudah dua dasawarsa bermukim di Malaysia menganggap kebijakan lockdown sudah tepat lantaran penyebaran Covid-19 sudah termasuk masif di Negeri Jiran.


Selain itu, menurutnya, dampak ekonomi yang dirasakan sebagian warga Malaysia juga tak terlalu besar lantaran rata-rata masyarakat Negeri Jiran mendapat pemasukan bulanan.

Selain itu, kebijakan pembatasan pergerakan juga hanya berlaku sementara waktu selama 14 hari ke depan.

"Orang-orang di sini ekonominya tidak banyak bergantung pada penghasilan harian. Malaysia adalah negara yang dihuni oleh banyak warga asing dari berbagai negara di dunia jadi kalau tidak di lockdown kemungkinan lebih buruk bisa saja terjadi," kata lelaki asal Lamongan, Jawa Timur itu.

Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, memberlakukan lockdown menyusul kasus virus corona yang meningkat di Negeri Jiran.

Kebijakan pembatasan pergerakan ini membuat Malaysia menutup akses masuk ke dalam dan keluar negeri untuk sementara waktu.

Semua warga dari Malaysia dilarang bepergian keluar negeri dulu. Sementara mereka yang kembali dari luar negeri harus melalui inspeksi kesehatan dan diwajibkan menjalani karantina diri selama 14 hari. Malaysia juga akan melarang pendatang--termasuk turis dari luar negeri.


Warga negara juga diperintahkan untuk membatasi bepergian di dalam negeri dan melarang seluruh kegiatan yang berkaitan dengan keramaian.

Segala hal tentang kegiatan massal seperti soal keagamaan, olahraga, sosial, dan seni-budaya pun dilarang. Selain itu, pelaksanaan Salat Jumat bagi umat Muslim pun sementara ditiadakan.

Tak hanya itu, semua dunia usaha diwajibkan tutup, kecuali supermarket, pasar, minimarket, dan toko sembako.

Seorang WNI lainnya yang merantau di Negeri Jiran, Agus Setiawan, juga berpendapat bahwa pembatasan pergerakan atau lockdown ini efektif untuk meminimalisir penyebaran virus corona, dengan syarat seluruh warga harus patuh.

Selain itu, Agus menganggap pemerintah Malaysia cukup profesional dan transparan terkait penanganan wabah corona ini, salah satunya dengan melaporkan setiap kasus bahkan yang masih dicurigai (suspect).

[Gambas:Video CNN]

"Mereka yang diketahui ada gejala Covid-19 langsung dikarantina dan dikategorikan Patient Under Investigation. Hasil pemeriksaan lab yang menunjukkan seseorang positif atau tidak," ujar lelaki yang berprofesi sebagai wartawan tersebut.

"Di Bandara juga sudah dipasang alat thermal scanner begitu corona merebak di Wuhan. Infrastruktur rumah sakit juga disiapkan di semua negeri kemudian menjadikan RS Sungai Buloh sebagai RS corona di Kuala Lumpur," ucap Agus yang sudah tiga tahun bermukim di Malaysia.

Sebagai wartawan yang berbasis di Kuala Lumpur, Agus tak memungkiri bahwa banyak aktivitas yang terdampak kebijakan pembatasan ini.

Sang anak yang bersekolah di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur juga diliburkan dan harus belajar dari rumah.

"Sekolah menyiapkan format Google Docs untuk laporan harian. Jam kerja manajemen di apartemen tempat tinggal saya juga mengalami perubahan menjadi lebih cepat," tutur Agus.

Di tengah keterbatasan, Agus merasa masih bisa mengakomodasi pekerjaannya meski ada pembatasan bepergian di dalam negeri.
Kisah WNI Merasakan Lockdown Virus Corona di Malaysia(CNN Indonesia/Fajrian)
Sebab, pemerintah Malaysia rutin memberikan pembaruan informasi, khususnya terkait perkembangan virus corona, melalui teknologi informasi seperti grup pesan instan WhatsApp, situs resmi pemerintah, hingga sosial media.

"Kalau suplai informasi dari pemerintah tidak akan kekurangan karena ada grup WhatsApp dan mereka juga membuat tiga channel (saluran) grup Telegram yakni Majelis Keselamatan Negara, Kementerian Kesehatan, dan National Crisis Preparedness and Response Centre (CPRC)," kata Agus. (rds/ayp)