Cerita Manis Yahudi-Muslim Israel di Tengah Pandemi Corona

CNN Indonesia | Sabtu, 28/03/2020 06:35 WIB
Cerita Manis Yahudi-Muslim Israel di Tengah Pandemi Corona Ilustrasi tenaga medis virus corona. (ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua petugas kesehatan virus corona berbeda kepercayaan melaksanakan ibadah secara bersamaan di pinggir jalan kota Be'er Sheva, bagian selatan Israel. Situasi tersebut merupakan potret menginspirasi di tengah pandemi virus corona yang telah menyebar secara global.

Avraham Mintz yang seorang Yahudi beribadah menghadap Yerusalem, sementara Zoher Abu Jama melaksanakan salat dengan menghadap ke arah Mekkah.

Dilaporkan CNN, Jumat (27/3), keduanya baru saja selesai menangani seorang wanita berusia 41 tahun yang mengalami masalah pernapasan. Sebelumnya, mereka memeriksa lansia 77 tahun. Nyaris tidak ada waktu berhenti dari tugas yang mereka jalani.


Namun, ketika waktu menunjukkan pukul enam sore, Mintz dan Abu Jama berhenti untuk beristirahat dan beribadah sekitar 15 menit. Keduanya merupakan pekerja medis untuk instansi pelayanan tanggap darurat di Israel, Magen David Adom (MDA).


Mintz merupakan umat Yahudi yang religius. Di samping mobil ambulans, ia berdoa dengan memakai selendang putih hitam di bahu. Sementara itu, Abu Jama sebagai Muslim yang taat melaksanakan salat magrib dengan beralaskan sajadah berwarna merah dan putih.

Bagi Mintz dan Abu Jama, beribadah bersamaan menurut kepercayaan masing-masing bukanlah hal baru. Mereka secara rutin mendapat giliran kerja bersama dua hingga tiga kali dalam sepekan.

Potret dua petugas medis yang melakukan ibadah bersamaan tersebut diambil oleh pekerja lainnya, dan langsung ramai diperbincangkan di media sosial serta muncul dalam pemberitaan media internasional.

[Gambas:Video CNN]

"Saya bangga dengan semua layanan penyelamatan, tidak masalah dari komunitas atau agama apa," kata seorang pengguna di Instagram. "Satu pertarungan! Satu kemenangan! Mari kita bersatu," kata pengguna lainnya di Twitter.

Mintz mengungkapkan pentingnya meluangkan waktu sesaat untuk beribadah meski sedang sibuk bekerja. Walaupun sederhana, menurutnya doa memiliki dampak luar biasa.

"Saya percaya bahwa Zoher dan saya, dan sebagian besar masyarakat dunia memahami bahwa kita harus mengangkat kepala dan berdoa. Hanya itu yang tersisa," kata pria berusia 42 tahun itu.


Abu Jama sendiri masih berstatus relawan di MDA yang tinggal di Kota Bedouin, Rahat. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai instruktur pengemudi untuk membantu di bidang pelayanan tanggap darurat. Sementara, Mintz merupakan pekerja tetap yang bertugas mendampingi dan melatih para relawan, seperti Abu Jama.

"Dalam hal kepercayaan dan kepribadian kita percaya pada hal-hal yang sama dan kita memiliki kesamaan," kata Abu Jama.

"Saya percaya dia adalah orang yang memberi dan menerima perasaan hormat, dan itu penting," ucap pria berusia 39 tahun itu, merujuk pada rekan kerjanya.

Juru bicara MDA, Zaki Heller, mengungkapkan pekerja mereka di seluruh Israel dapat menangani hingga 100 ribu panggilan pada hari-hari sibuk, 10 kali lebih banyak dibandingkan hari biasanya.

Di tengah pandemi virus corona seperti sekarang, para tenaga medis yang bekerja untuk MDA bertugas mengantarkan pasien ke rumah sakit atau hotel karantina yang ditentukan. Mereka juga bertugas melakukan pengetesan virus corona dan mengambil darah dari para pendonor.

Berkenaan dengan pemilihan umum legislatif di Israel, para petugas medis itu bahkan berkeliling untuk menyediakan tempat pemungutan suara bagi pasien yang melakukan karantina mandiri di rumah.
Cerita Manis Yahudi-Muslim di Tengah Pandemi CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian

"Petugas MDA tengah berhadapan langsung dengan virus. Para pekerja MDA bekerja dengan tangan, sarung tangan, dan masker mereka," kata Direktur Jenderal MDA Eli Bin.

Ia sangat membanggakan 2.500 pekerja tetap dan 25.000 relawannya di MDA, bahkan menyebut timnya sebagai pahlawan Israel.

Di sisi lain, Mintz dan Abu Jama justru tak membesar-besarkan peran mereka dalam menangani wabah corona. Mereka sadar akan kewajiban meski mengaku takut terhadap virus tersebut. Mintz dan Abu Jama juga percaya hanya Tuhan yang dapat mengendalikan semua dan membantu mereka.

"Semua orang takut dengan virus. Begitu juga kita, tetapi kita memiliki keyakinan bahwa semuanya ada di bawah kendali Tuhan," ujar Mintz.

"Saya percaya bahwa Tuhan akan membantu kita dan kita akan melewati ini. Kita semua harus berdoa kepada Tuhan agar bisa melalui ini, dan kita akan melewati krisis dunia ini," kata Abu Jama menambahkan ungkapan Mintz. (ang/dea)