Warga India Protes Kesulitan Makanan Saat Lockdown Corona

CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 13:54 WIB
Warga India Protes Kesulitan Makanan Saat Lockdown Corona Ilustrasi penduduk India saat pemberlakuan penguncian wilayah (lockdown). (AP/Altaf Qadri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penduduk di Negara Bagian Goa, India, protes karena pengiriman pasokan bahan makanan tidak merata di masa penguncian wilayah (lockdown) selama 21 hari untuk menekan penyebaran virus corona.

Seperti dilansir The Indian Express, Senin (30/3), kekecewaan masyarakat tersebut semakin diperuncing karena dalam beberapa hari belakangan beredar rekaman video, yang memperlihatkan polisi dan aparat keamanan di India memukuli para penduduk yang tidak mematuhi imbauan untuk tetap berada di rumah.

"Sistem pengiriman dari pemerintah bergantung kepada relawan. Namun, mereka yang mendapatkan hanya yang mendapat rekomendasi dan penduduk biasa tidak kebagian. Ini menyulitkan kami jika ada kebutuhan yang mendesak. Pemerintah sudah memberi nomor telepon darurat untuk kami jika membutuhkan pasokan, tetapi mereka juga tidak bekerja baik. Ini kacau," kata seorang penduduk Goa, Sapna Shahani.


Yang membuat penduduk setempat semakin bingung adalah adanya perintah dari Menteri Besar Goa pada Jumat (27/3) pekan lalu yang menyatakan pasokan bahan makanan dan kebutuhan lain akan diberikan melalui kantor anggota Majelis Legislatif (MLA). Para penduduk kemudian diminta mengambil pasokan tersebut di balai kota.


Salah satu penduduk yang mempertanyakan hal itu adalah seorang advokat bernama Rohit Braz Dsa. Ketika ditanya soal hal tersebut, dia mengatakan, "rantai pasokan bahan makanan untuk warga menjadi terganggu karena harus melalui kantor MLA, sementara toko sayuran tetap kosong".

Kesulitan mendapatkan bahan makanan juga dirasakan oleh Aparna Kamath yang tinggal di daerah Dauna Paula, Goa. Dia terpaksa keluar rumah pada pukul 05.00 untuk mencari susu.

"Sebenarnya tidak ada yang mau keluar. Kami menyadari bahayanya, tetapi tidak ada pilihan kalau persediaan di rumah menipis," ujar Kamath.

Para penduduk juga khawatir mereka menjadi korban kekerasan polisi jika nekat keluar rumah meski memang hendak belanja karena persediaan di rumah menipis.

Seorang penduduk lainnya, Srikrishna Hardalnkar, mengatakan mereka sudah menunggu dengan sabar pengiriman pasokan bahan makanan tersebut. Namun ternyata tak kunjung tiba.

[Gambas:Video CNN]

"Kami menunggu dengan sabar sampai Minggu pagi dan akhirnya tidak mendapatkan apapun. Tidak ada susu dan sayuran. Hanya ada nasi dan dal yang bisa kami makan," kata Hardalnkar.

"Para penduduk khawatir membuka toko karena mereka belum diberi pengarahan. Bahkan tidak ada biskuit tersisa bagi kami," ujar Hardalnkar.

Alhasil, para penduduk mengirim surat protes yang diteken warga dari kawasan utara hingga selatan kepada Menteri Besar Goa, Parimal Rai.

"Para penduduk di jalanan kekurangan informasi dan bingung akibat pengumuman perubahan yang terus menerus terjadi soal pasokan bahan makanan dan jasa, dan sampai saat ini tidak ada sistem yang nyata untuk bisa mendapatkan makanan. Negara bagian harus bertanggung jawab mencari jalan keluar masalah ini," demikian isi surat tersebut.

Seorang pejabat Goa, Jaspal Singh, mengatakan penduduk yang mempunyai resep obat dan dalam keadaan terdesak tidak perlu khawatir. Dia mengatakan hanya memberlakukan kebijakan keras terhadap warga yang mengabaikan aturan tanpa tujuan.

"Sekitar 10 sampai 15 persen penduduk Goa kesulitan mendapatkan bahan makanan, tetapi tidak seluruh orang harus pergi belanja. Saya melihat orang keluar rumah hanya untuk belanja satu saset sampo. Ini bukan kebutuhan mendesak," kata Menteri Besar Sarwant.
Warga India Protes Kesulitan Makanan Saat Lockdown Corona(CNN Indonesia/Fajrian)
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini terdapat 979 kasus infeksi virus corona di India, dengan 25 orang meninggal.

Sedangkan menurut data yang dihimpun Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins, jumlah kasus virus corona di India mencapai 1.024 orang. Sebanyak 27 orang di antaranya meninggal dan 95 orang dinyatakan sembuh. (ayp/ayp)