Negara-negara dengan Kesembuhan Corona Tertinggi di Dunia

CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 14:40 WIB
Negara-negara dengan Kesembuhan Corona Tertinggi di Dunia Ilustrasi tenaga medis virus corona di China. (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari 151 ribu orang di seluruh dunia dinyatakan sembuh dari virus corona (Covid-19). Tingkat kesembuhan global hingga Senin (30/3) mencapai 20 persen dari total 722.088 infeksi virus corona di seluruh dunia.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun situs Worldometers, jumlah pasien yang dinyatakan meninggal karena virus corona di seluruh dunia mencapai 33.976 orang atau 4,69 persen.

Pandemi virus corona terlihat mulai dapat dikendalikan di negara-negara yang terdampak lebih awal. Setidaknya ada tiga negara dengan tingkat kesembuhan tinggi, yakni China, Korea Selatan, dan Iran. Kebijakan lockdown dan menjaga jarak sosial (social distancing) disinyalir dapat membantu pemerintah menekan wabah tersebut.


Ditambah lagi dengan pengetesan agresif dan penanganan medis yang baik dapat membantu pemerintah mencapai kemenangan melawan virus corona.


Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, kapasitas pengetesan yang luas dan menjaga jarak sosial merupakan langkah terbaik untuk melawan pandemi corona hingga vaksin ditemukan.

"Langkah-langkah agresif untuk menemukan, mengisolasi, menguji, merawat, dan melacak tidak hanya cara terbaik dan tercepat. Mereka juga cara terbaik untuk mencegah penyebaran virus," kata Ghebreyesus, seperti dikutip dari Business Insider Singapore, Senin (30/3).  

Angka kesembuhan yang tinggi di beberapa negara dapat memberikan harapan bagi negara-negara terdampak, dengan terus mangambil langkah-langkah untuk menekan penyebaran virus.

China

Sebagai negara yang pertama kali terdampak, China disebut sebagai sumber penyebaran virus corona, di mana mayoritas kasus global dan kematian paling banyak berasal dari negara tersebut.

Pemerintah China segera menerapkan kebijakan karantina ketat, termasuk memberlakukan penutupan akses (lockdown) di provinsi terdampak Hubei pada Januari lalu. Pemerintah China juga memberlakukan larangan perjalanan dan menggalakkan kampanye menjaga jarak sosial (social distancing).

[Gambas:Video CNN]

Melansir Business Insider Singapore, angka kesembuhan virus corona di China mulai melampaui jumlah kasus aktif sejak 6 Maret lalu. Pemerintah kemudian mengklaim bahwa China telah berhasil mengatasi pandemi.

Jumlah kasus corona di luar China saat ini justru lebih tinggi. Orang terinfeksi di Amerika Serikat dan Italia telah melampaui China dengan masing-masing 142.178 dan 97.689 pasien.

Italia bahkan juga memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan China. Jumlah orang yang meninggal karena virus corona di Italia mencapai 10.779 jiwa. Spanyol menempati urutan kedua dengan 6.803 orang meninggal dunia.


Kini China justru memiliki angka kesembuhan paling tinggi di seluruh dunia yakni 75.700 kasus, 93 persen dari total 81.470 kasus corona yang ada di sana. Pemerintah China tampaknya sudah dapat mengendalikan jumlah infeksi dari dalam China.

Penemuan kasus baru yang dilaporkan China sebagian besar terdeteksi dibawa oleh orang-orang dari luar negeri, terutama wilayah terdampak seperti AS dan Eropa. Pemerintah pun mewajibkan seluruh pendatang dari luar negeri untuk menjalani karantina selama 14 hari.

Sementara itu, menyusul jumlah infeksi domestik yang cenderung menurun, China mulai melonggarkan kebijakan-kebijakannya terkait virus corona.

Pemerintah China mencabut status lockdown Provinsi Hubei sejak pekan lalu. Status isolasi di Kota Wuhan, yang menjadi tempat kemunculan dan penyebaran virus corona pertama kali, juga akan dicabut pada 8 April mendatang.

Korea Selatan

Berdasarkan data Worldometers, tingkat kesembuhan dari virus corona di Korea Selatan telah mencapai 54 persen atau 5.228 dari total 9.661 kasus yang ada di sana. Sebanyak 4.811 pasien di antaranya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada Sabrtu (28/3) lalu.

Dilaporkan The Korea Times pada Senin (30/3), pejabat kementerian kesehatan Korsel Yoon Tae-ho mengatakan, tingkat kesembuhan yang terbilang tinggi di Korsel dapat dicapai karena pengujian agresif, pengawasan ketat, karantina, kebijakan menjaga jarak sosial, serta perawatan medis dari para dokter dan perawat.

Setelah melaporkan kasus virus corona pertama pada 20 Januari lalu, pemerintah Korsel mulai memperbanyak tempat tes corona dan mendorong warga untuk mau memeriksakan diri.
Virus corona di Korea Selatan. (Im Hwa-young/Yonhap via AP)

Demi mempermudah warga, Korsel menerapkan tes pemeriksaan gratis hingga membuka tes pemeriksaan Covid-19 melalui layanan drive-through.

Melansir Anadolu, setidaknya 364.942 orang di Korsel telah melakukan pemeriksaan virus corona. Sebanyak 341.332 orang dinyatakan negatif, sementara 14.369 lainnya masih menunggu hasil tes keluar.

Serupa dengan China, di samping infeksi domestik yang menurun, Korsel juga dihadapkan dengan kemunculan kasus baru yang terdeteksi dibawa dari luar negeri.

Untuk itu, pemerintah Korsel memperpanjang kebijakan menjaga jarak sosial hingga 5 April mendatang untuk meredam penyebaran virus corona. Mereka juga meminta warga untuk meghindari aktivitas yang memerlukan kontak dekat di tempat tertutup, seperti kegiatan keagamaan dan kegiatan olahraga di dalam ruangan.

Iran

Sebanyak 12.391 dari total 38.309 pasien infeksi virus corona di Iran dilaporkan sembuh atau 32,3 persen. Lebih dari 11 ribu pasien diperbolehkan keluar dari rumah sakit pada Jumat (27/3) kemarin. Sementara itu, pasien yang dinyatakan meninggal sebanyak 2.640 orang.

"Bangsa kita telah berhasil mencapai tujuannya, meskipun ada kesulitan, Iran akan mengatasi virus corona dengan persatuan," kata Presiden Iran Hassan Rouhani, seperti dikutip Aljazeera.

Sejak mengumumkan kematian pertama akibat virus corona pada 19 Februari lalu, Iran mulai mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona. Apalagi setelah banyak pejabat Iran yang juga terinfeksi virus.


Juru bicara kementerian kesehatan Kianoush Jahanpour menyebut naiknya kasus infeksi virus corona di Iran disebabkan oleh banyaknya pengakuan warga yang mengalami gejala infeksi. Selain itu, Iran juga telah memperluas kapasitas pengetesan di seluruh negeri.

Kemenkes bahkan mengimbau para warga untuk mengunjungi situs daring mereka dan melaporkan gejala-gejala yang berpotensi, beserta identitas mereka. Data yang masuk dalam situs tersebut digunakan untuk mengidentifikasi jumlah potensi kasus.

Untuk itu, pemerintah Iran menangguhkan kegiatan belajar di sekolah dan universitas hingga April mendatang dan meniadakan kegiatan di parlemen guna menekan penyebaran wabah corona.

Mereka juga menutup sementara empat situs ziarah utama di Iran, termasuk makam Fatima Masumeh di Qom. Kegiatan salat Jumat pun dilarang.

Selain itu, pemerintah juga meminta seluruh warganya untuk tidak bepergian menjelang liburan Tahun Baru Persia. Namun, imbauan ini tidak dihiraukan oleh sebagian besar warga.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian

Oleh karena itu, pemerintah Iran memberlakukan aturan pembatasan akses yang lebih ketat. Laporan media televisi pemerintah menunjukkan adanya pos-pos pemeriksaan polisi di pintu masuk dan keluar Teheran.

Selain tiga negara itu, Venezuela dan Bahrain juga tercatat memiliki tingkat kesembuhan tinggi meski tidak terdampak parah oleh virus corona.


Berdasarkan data di situs Worldometers, hingga hari ini, tingkat kesembuhan di Bahrain mencapai 54,5 persen, tertinggi setelah China. Bahrain juga hanya memiliki 499 kasus virus corona dengan empat kematian.

Sementara itu, sebanyak 39 pasien corona di Venezuela juga dinyatakan sembuh. Dengan demikian, 32,7 persen dari 119 orang terinfeksi corona di sana sudah kembali pulih, sedangkan tiga di antaranya meninggal dunia. (ang/dea)