Lockdown memaksa orang tua dan anak-anak untuk tinggal di rumah. Tak jarang kondisi ini memicu emosi dan kekerasan rumah tangga lantaran tidak ada aktivitas sosial di tengah pembatasan.
Selain itu, keluarga miskin juga harus berjuang ekstra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama untuk membeli makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal di hari biasa, anak-anak bisa mengunjungi satu 27 pusat penitipan anak untuk mendapatkan makan siang gratis, bimbingan belajar, dan layanan konseling.
Merespons penyebaran Covid-19, juru bicara lembaga sosial Arche, Wolfgang Buescher mengatakan kebijakan jaga jarak sosial (social distancing) menjadi momen memilukan lantaran mereka tetap harus mengantarkan bantuan ke keluarga miskin.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Selain terkendala aturan social distancing, para sukarelawan ini juga kesulitan menjangkau beberapa keluarga yang tinggal di lantai atas rumah susun. Untuk menyiasati, tim harus memutar otak agar bantuan tetap bisa sampai ke tangan mereka.
"Anda bisa membayangkan apa yang terjadi di sana," kata Buescher.
Buescher mengatakan anak-anak yang hidup di garis kemiskinan merupakan kelompok yang berjuang lebih keras.
Sebagai alternatif, para sukarelawan kini mengajarkan anak-anak yang beranjak remaja dan dewasa untuk menggunakan aplikasi konferensi video untuk berbincang dan mengecek kondisi mereka.
Berdasarkan data yang dirilis John Hopkins University, Jerman merupakan negara kelima dengan kasus Covid-19 terbesar di dunia. Hingga Rabu (18/4) sekitar 107.663 kasus virus corona dengan 2.016 kematian dan 36.081 pasien dinyatakan sembuh. (ap/evn)
Foto: CNN Indonesia/Fajrian