Pemimpin Perempuan di Dunia yang Sukses Tekan Pandemi Corona
CNN Indonesia
Kamis, 16 Apr 2020 08:11 WIB
Sementara itu, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern tanpa pikir panjang membuat kebijakan untuk menutup perbatasan bagi setiap warga asing mulai 19 Maret lalu. Berselang empat hari, ia kemudian mengumumkan untuk melakukan penguncian wilayah (lockdown) skala nasional pada 23 Maret 2020 selama tiga minggu.
Kebijakan tersebut mengharuskan para pekerja untuk tetap tinggal di rumah kecuali untuk keperluan belanja bahan makanan atau berolahraga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu kampanye Selandia Baru selama lockdown karena virus corona. (Foto: AP Photo/Mark Baker) |
Tingkat kematian rendah di Islandia
Empat dari lima negara di Eropa Timur dipimpin oleh perempuan dan sebagian besar mencatat tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya.
Salah satunya adalah Perdana Menteri Islandia Katrin Jakobsdottir yang dinilai berhasil menekan angka penyebaran virus corona. Ia melakukan pengujian besar-besaran secara acak dan mencatat hasil yang berpengaruh bagi negara lain di dunia.
Pengujian yang dilakukan di Islandia berhasil menemukan bahwa setengah dari semua orang yang dinyatakan positif terinfeksi virus ternyata tidak menunjukkan gejala awal. Fakta tersebut membuat negara lain meningkatkan kewaspadaan terhadap virus serupa SARS tersebut.
Selain menggelar tes massal, Islandia juga secara agresif melacak kontak dan mengkarantina orang-orang yang diduga terinfeksi virus corona.
Perdana Menteri Silveria Jacobs dari Sint Maarten di Kepulauan Karibia secara tegas melarang warganya keluar rumah selama dua pekan. Melalui transmisi video yang kemudian viral di seluruh dunia, Jacobs mengingatkan warganya untuk berhenti keluar rumah agar tak tertular virus corona.
"Jika kamu tidak memiliki jenis roti yang kamu suka di rumahmu, makan kerupuk. Jika kamu tidak memiliki roti, makan sereal. Makan gandum," katanya dengan tegas.
Kendati sejumlah negara mulai mencatat pelemahan kasus Covid-19, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan saat ini masih terlalu dini untuk mengklaim satu negara telah terbebas dari pandemi virus corona. (ara/evn)
Salah satu kampanye Selandia Baru selama lockdown karena virus corona. (Foto: AP Photo/Mark Baker)