Syarat-syarat Kapal Boleh Melakukan Pelarungan Jenazah

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 07/05/2020 11:29 WIB
KRI Usman Harun-359 menangkap kapal ikan asal Vietnam berikut delapan ABK warga Vietnam yang diduga sedang melakukan penangkapan ikan ilegal di Laut Natuna. Ilustrasi kapal ikan. (Dok. Koarmada I)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah seorang anak buah kapal (ABK) WNI dilaporkan meninggal saat bekerja di kapal ikan China dan jenazahnya kemudian dilarung (dibuang) ke laut. Ia diduga mengalami praktek eksploitasi bekerja hingga 18-20 jam sehari dengan kondisi minim istirahat.

Kabar dugaan eksploitasi ini dilaporkan oleh media Korea Selatan, MBC, pertama kali dan kemudian direspons oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu, Judha Nugraha, mengatakan bahwa Pemerintah China mengklaim kapal ikan China telah mematuhi praktik kelautan internasional dalam melarung jenazah awak kapalnya ke laut. Pelarungan, menurut Yudha, dilakukan untuk menjaga kesehatan awak kapal lainnya.


Pelarungan jenazah (burial at sea) sendiri tercantum dalam aturan Organisasi Buruh Internasional (ILO) tepatnya dalam aturan bertajuk 'Seafarer's Service Regulations' Pasal 30.

Namun tak semua awak yang meninggal di atas kapal bisa dibuang ke laut. ILO memberikan sejumlah syarat bagi pemilik kapal, yaitu:

1. Kapal berlayar di perairan internasional.

2. ABK meninggal lebih dari 24 jam atau kematian akibat infeksi.

3. Kapal tidak bisa menyimpan jenazah karena alasan kebersihan atau pelabuhan entri melarang kapal untuk menyimpan jenazah atau alasan sah lainnya.

4. Surat keterangan kematian akan dikeluarkan oleh dokter kapal (jika ada).

Saat pelarungan, pemilik kapal seharusnya melaksanakan upacara kematian secara layak dan memastikan jenazah tidak terapung. Upacara kematian direkam atau difoto sedetail mungkin.

Peninggalan mendiang seperti rambut sisa dan barang-barang pribadi akan dipercayakan pada personel untuk kemudian diteruskan pada pasangan atau keluarga dekat.

Pemilik kapal juga harus segera melapor pada pegawai untuk menyampaikan kabar duka pada keluarga ABK.

Menindaklanjuti isu pelarungan ABK WNI, Judha menyampaikan Kemlu akan memanggil Duta Besar RRT untuk meminta penjelasan tambahan mengenai alasan pelarungan jenazah apakah sudah sesuai aturan atau belum. Kemudian dari KBRI di Beijing, China juga telah mengambil sikap.

"KBRI Beijing telah menyampaikan nota diplomatik untuk meminta klarifikasi mengenai kasus ini," katanya.

(els/vws)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK