Kedua Kalinya dalam Sejarah, Afghanistan Lebaran tanpa Perang

CNN Indonesia | Minggu, 24/05/2020 09:35 WIB
In this photograph taken on January 17, 2019, an Afghan resident rides a bicycle along a road amid heavy smog conditions in Afghanistan's capital Kabul. - Kabul residents have long run the gauntlet of suicide attacks and bombs. This winter, however, they face another deadly threat: air pollution. For weeks a thick layer of toxic smog has blanketed the sprawling city as cold air traps pollution caused by people burning coal, wood, car tyres and even garbage to stay warm. (Photo by WAKIL KOHSAR / AFP) / TO GO WITH: PHOTOESSAY - AFGHANISTAN-POLLUTION Ilustrasi. Suasana kota Kabul di Afghanistan. (WAKIL KOHSAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Taliban mengumumkan gencatan senjata tiga hari selama liburan IdulFitri mulai hari Minggu (24/5) yang menjadi langkah mengejutkan setelah berbulan-bulan pertempuran berdarah dengan pasukan Afghanistan usai kelompok itu menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan Taliban, yang mengumumkan penghentian permusuhan "selama tiga hari IdulFitri," memerintahkan pejuang Taliban untuk menahan diri tidak memasuki wilayah pemerintah dan sebaliknya juga mengatakan mengatakan hal yang sama untuk pasukan pemerintah Afghanistan.

Sejak invasi AS pada tahun 2001, hanya ada satu kali jeda dalam pertempuran antara Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan, yakni saat IdulFitri tahun 2018.


Saat itu ajakan gencatan senjata ditawarkan oleh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang lalu diterima para pemberontak.

Gencatan senjata saat Lebaran mungkin menjadi momen paling bahagia di Afghanistan.

Penduduk pesta es krim dan selfie dengan anggota Taliban. Semua orang dalam foto dan video yang beredar menampakkan senyum yang lebar.

Ghani lalu dengan cepat menerima tawaran gencatan senjata Taliban hari Sabtu (23/5).

"Saya menyambut pengumuman gencatan senjata oleh Taliban," cuitnya di Twitter.

"Sebagai panglima tertinggi, saya telah menginstruksikan ANDSF (Pasukan Keamanan Pertahanan Nasional Afghanistan) untuk mematuhi gencatan senjata tiga hari dan untuk membela hanya jika diserang."

AS "perantara" perdamaian

Kesepakatan AS-Taliban bertujuan untuk membuka jalan bagi pemberontak untuk mengadakan pembicaraan damai langsung dengan pemerintah Afghanistan.

Pemerintahan Presiden Donald Trump telah menjadikannya prioritas untuk mengakhiri perang di Afghanistan, dan dalam upaya untuk menarik pasukan asing para pejabat AS telah mendorong Taliban dan para pemimpin pemerintah untuk mengadakan pembicaraan damai.

Namun para analis mengatakan Taliban seakan melangkahi kesepakatan dengan AS, dan pejabat pemerintah Afghanistan telah melaporkan lebih dari 3.800 serangan sejak ditandatangani, menewaskan 420 warga sipil dan melukai 906 lainnya.

Namun, Perwakilan Khusus AS untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad telah menyatakan bahwa para pemberontak masih sepakat dengan tawar-menawar mereka - bahkan saat terjadinya kekerasan baru-baru ini yang melanggar inti perjanjian itu.

"Taliban telah mengimplementasikan perjanjian mereka untuk tidak menyerang pasukan koalisi," katanya awal bulan ini.

Pernyataan itu muncul setelah serangan mengerikan terhadap rumah sakit bersalin di Kabul yang menewaskan puluhan - termasuk ibu dan bayi - dan pemboman bunuh diri di pemakaman.

Taliban membantah terlibat dalam serangan itu, tetapi Presiden Ghani menyalahkan mereka dan kelompok Negara Islam (IS) atas pertumpahan darah.

Setelah serangan itu dan pemboman bunuh diri lainnya di timur Afghanistan, pemerintah memerintahkan pasukan keamanan untuk beralih ke sikap "ofensif" terhadap Taliban.

Taliban merespons dengan bersumpah untuk meningkatkan serangan terhadap pasukan pemerintah.

Kelompok itu telah melakukan serangan reguler terhadap pasukan Afghanistan dalam beberapa hari terakhir, dan awal pekan ini bahkan mencoba memasuki kota utara Kunduz.

Namun, pasukan Afghanistan berhasil mengusir serangan Taliban terhadap Kunduz, sebuah kota yang telah jatuh ke tangan pemberontak dua kali sebelumnya.

(AFP/ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK