Nestapa Masyarakat Adat Brasil Dikepung Corona

CNN Indonesia | Senin, 25/05/2020 17:42 WIB
In this May 10, 2020 photo, Pedro dos Santos, the leader of a community named Park of Indigenous Nations, poses for a photo, in Manaus, Brazil. Manaus' lack of the new coronavirus treatment prompted Pedro dos Santos to drink tea made of chicory root, garlic and lime to combat a high fever that lasted 10 days. (AP Photo/Felipe Dana) Seorang anggota masyarakat adat di kawasan Amazon, Brasil, mengenakan masker untuk menghindari tertular virus corona. (AP/Felipe Dana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat adat yang tinggal di pedalaman Brasil semakin terancam dengan laju persebaran virus corona (Covid-19) di lingkungan mereka.

Menurut kelompok advokasi Artikulasi Masyarakat Adat Brasil (APIB), angka kematian akibat virus di Brasil melonjak dua kali lipat dari sisa populasi.

APIB melacak jumlah kasus positif dan kematian di antara 900.000 penduduk asli di negara itu. Mereka mencatat lebih dari 980 kasus resmi virus corona dan ada 125 anggota suku pedalaman di Brasil.


Hal itu memperlihatkan tingkat kematian akibat corona di komunitas masyarakat adat Brasil sebesar 12,6 persen.


Data ini berbeda dengan angka nasional yang menyebut tingkat kematian sebesar 6,4 persen.

Sementara itu Sekretariat Khusus Kementerian Kesehatan untuk Kesehatan Pribumi melaporkan hanya 695 kasus virus corona di masyarakat adat pedalaman dan 34 kematian.

Mereka memantau sekelompok kecil orang yang tinggal di desa tradisional dan terdaftar di klinik kesehatan setempat, seperti dilansir CNN, Senin (25/5).

Masyarakat desa yang merantau ke daerah perkotaan untuk belajar atau mencari pekerjaan bisa meningkatkan risiko terinfeksi virus.

Sementara bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil, kemungkinan tidak memiliki fasilitas sanitasi dan kesehatan yang memadai.

Koordinator Eksekutif APIB dan anggota masyarakat Tuxa di timur laut Brasil, Dinaman Tuxa, mengatakan, "Dalam menghadapi pandemi kami tidak punya banyak pilihan. Kami benar-benar mengisolasi diri sendiri. Kami membuat penghalang. Tidak ada yang diizinkan masuk dan kami berusaha mencegah siapapun keluar".

Sejauh ini, belum ada kasus yang dikonfirmasi di Tuxa, tetapi ia tidak tahu berapa lama mereka dapat mencegah penyebaran virus.


Lebih dari 60 anggota masyarakat desa mengkonfirmasi kasus Covid-19, banyak di antaranya tersebar di wilayah Amazon, di mana akses ke rumah sakit hanya bisa dijangkau dengan kapal atau pesawat.

Menurut studi yang dilakukan organisasi non-profit, InfoAmazonia, jarak rata-rata antara desa dan ICU terdekat di Brasil adalah 315 kilometer dan 10 persen desa lainnya berjarak antara 700-1.079 kilometer.

Dalam sebuah wawancara, anggota kongres wanita adat pertama di Brasil, Joenia Wapichana, mengatakan masyarakat pribumi yang memiliki klinik kesehatan pun tidak siap menghadapi ancaman virus corona.

"Dan ketika mereka sampai di sana (klinik), mereka harus bersaing untuk (mendapat perawatan dari) rumah sakit, untuk tempat tidur di ICU, untuk ventilator, karena (jumlahnya) tidak cukup," kata Joenia.

Negara-negara bagian di sebelah utara dan timur laut Brasil termasuk di antara yang paling terdampak oleh virus corona.

Sebagian besar kematian Covid-19 di penduduk asli terjadi di Amazon, salah satu negara bagian dengan tingkat infeksi tertinggi, di mana pejabat setempat telah memperingatkan bahwa sistem kesehatan mereka tidak sanggup menangani pasien corona pada Maret lalu.


Aktivis hak-hak masyarakat adat memperingatkan bahwa penambangan ilegal dan penebangan liar di tanah adat menjadi ancaman yang lebih besar bagi masyarakat di daerah terpencil.

Menurut data dari Institut Nasional Penelitian Ruang Angkasa (INPE) Brasil, deforestasi di hutan hujan Brasil meningkat hampir 64 persen pada April tahun ini.

Dalam wawancara dengan CNN, aktivis dan fotografer Brasil, Sebastião Salgado, mengatakan masyarakat pribumi di Amazon tidak memiliki antibodi untuk melawan penyakit yang datang dari luar hutan hujan.

"Ada bahaya besar bahwa virus corona bisa masuk ke wilayah adat dan menjadi genosida yang nyata," kata Salgado.

Pekan lalu, kongres Brasil meloloskan rencana darurat untuk masyarakat adat, tidak hanya dalam hal penyediaan peralatan medis dan rumah sakit di lapangan, tapi juga air minum dan persediaan makanan yang memadai di antara suku-suku tersebut untuk mengisolasi diri.
Anggota masyarakat adat di Amazon, Brasil, menangis karena kepala suku mereka meninggal akibat Covid-19. (AP/Edmar Barros)

Akan tetapi, rencana itu masih harus disetujui oleh Senat dan mendapat lampu hijau dari Presiden Brasil, Jair Bolsonaro.

Meski begitu, Bolsonaro bersikap seolah meremehkan virus corona dan secara historis memiliki hubungan buruk dengan masyarakat adat.

Dalam rekaman rapat kabinet Brasil yang bocor dan diungkap media massa, sempat terbersit ide supaya Bolsonaro menggunakan momen virus corona untuk semakin memperluas alih fungsi lahan di kawasan Amazon. Menurut salah satu anggota kabinet, saat perhatian masyarakat sedang tertuju kepada pandemi virus corona, dan tidak akan ada yang menyorot soal alih fungsi lahan hutan.

Selain itu, di dalam rekaman juga terdengar Bolsonaro dan sejumlah anggota kabinet melontarkan ucapan sumpah serapah kepada kelompok oposisi dan aktivis lingkungan serta masyarakat adat, karena dinilai menghalangi visinya untuk merambah kawasan Amazon. (ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]