Mongolia Tunggu Vaksin untuk Longgarkan Lockdown

CNN Indonesia | Selasa, 26/05/2020 03:09 WIB
UlaanBaatar, Mongolia - August 31, 2006: The people who got off the train are walking a platform to the ticket gate. UlaanBaatar di Mongolia. Mongolia memutuskan menunggu vaksin ditemukan untuk melonggarkan aturan lockdown dan karantina diri dalam menghadapi pandemi Covid-19. (Istockphoto/baikbaikjp)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Mongolia Khurelsukh Ukhnaa mengatakan negara tersebut akan tetap menjalankan peraturan ketat untuk mencegah penyebaran virus corona hingga vaksin ditemukan.

Keputusan itu meningkatkan peluang lockdown akan tetap berlaku hingga beberapa bulan ke depan.

Berlokasi di antara China dan Rusia, Mongolia termasuk negara pertama yang memblokade diri sejak 12 Maret kala pandemi Covid-19 mulai mendunia.


Banyak universitas, sekolah, dan taman kanak-kanak ditutup hingga September, pertemuan dan demonstrasi publik dilarang, anak-anak di bawah 12 tahun tidak diizinkan berada di mal atau pun restoran, dan masker diwajibkan.


"Negara akan tetap memberlakukan peraturan karantina hingga vaksin tersedia," kata Ukhnaa kepada media di gedung parlemen negara tersebut.

Ia tak menyebutkan lebih detail tentang tindakan yang akan tetap dilakukan. Ia juga menyebut tidak mengetahui kapan batas negara akan kembali dibuka.

Meski begitu, Ukhnaa mengatakan pemilihan umum legislatif akan tetap digelar sesuai rencana, 24 Juni.

Para ilmuwan dunia kini tengah berburu dengan waktu untuk menemukan sebuah vaksin dari virus yang telah membunuh lebih dari 340 ribu orang dan menginfeksi lebih dari 5 juta orang di 196 negara.


Mongolia tergolong negara dengan kasus Covid-19 terendah, dengan 140 kasus, yang sebagian besar merupakan impor dari Rusia. Orang yang kembali ke Mongolia dari luar negeri diterapkan karantina selama tiga pekan.

Negara Asia itu telah menerbangkan banyak pesawat untuk membawa pulang kembali penduduknya dari luar negeri, namun ribuan warga Mongolia lainnya tetap terlantar.

Hanya kelompok rentan, yaitu wanita hamil, manula, dan anak-anak dengan orang tua mereka, dan orang dengan masalah kesehatan serius yang diizinkan untuk kembali ke Mongolia.

Pemerintah setempat mengatakan mereka tidak memiliki kapasitas untuk menangani semua orang. (AFP/end)

[Gambas:Video CNN]