Usai Ancam Tutup Media Sosial, Trump Teken Perintah Eksekutif

CNN Indonesia | Kamis, 28/05/2020 09:52 WIB
US President Donald Trump, flanked by US Senate Majority Leader Mitch McConnell (L), House Minority Leader Kevin McCarthy (C) and Vice President Mike Pence (R), signs the CARES act, a $2 trillion rescue package to provide economic relief amid the coronavirus outbreak, at the Oval Office of the White House on March 27, 2020. - After clearing the Senate earlier this week, and as the United States became the new global epicenter of the pandemic with 92,000 confirmed cases of infection, Republicans and Democrats united to greenlight the nation's largest-ever economic relief plan. (Photo by JIM WATSON / AFP) Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (JIM WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan akan menandatangani sebuah perintah eksekutif soal media sosial pada Kamis (28/5).

Perintah eksekutif itu keluar setelah sang presiden kesal dengan Twitter yang menandai dua kicauannya sebagai klaim palsu untuk pertama kali. Dia mengancam akan menutup media sosial.

"Trump akan menandatangani perintah eksekutif berkaitan dengan media sosial pada Kamis," kata sejumlah asisten Trump seperti dilansir AFP.



Raksasa media sosial Twitter mengomentari dua kicauan Trump pada Selasa (26/5). Kedua kicauan itu berisikan anggapan Trump bahwa pemungutan suara melalui 'mailing voting' akan melahirkan pemilu AS yang curang.

Twitter membantah dan menyebut kicauan-kicauan Trump itu tanpa bukti.

Di bawah kolom kicauan Trump, Twitter mengunggah tautan 'dapatkan fakta tentang mail-in ballots' dan mengarahkan pengguna twitter untuk melihat klaim yang 'tidak berdasar' itu dengan mengutip artikel yang dirilis CNN, Washington Post, dan media lainnya.


"Trump secara keliru mengklaim bahwa surat suara (mail-in ballots) akan mengarah pada kecurangan pemilu," tulis Twitter.

"Cek Fakta menegaskan tidak ada bukti bahwa surat suara yang akan digunakan pada pilpres AS mengarah pada kecurangan pemilu," kata Twitter. 

Trump mengancam akan menutup platform media sosial dan menuduh Twitter mencampuri pemilihan presiden AS 2020 November mendatang.


Trump merasa sikap Twitter terhadap kicauannya itu membuat Partai Republik merasa suara konservatif dibungkam.

Menurut AFP, Trump memang kerap menggunakan Twitter untuk membagikan teori konspirasi, informasi palsu, dan mencaci kepada 80 juta pengikutnya.

Sebelum terpilih pada 2016, ia membangun citra politiknya dengan mendukung kebohongan bahwa Barack Obama tidak dilahirkan di Amerika Serikat (rds/dea)

[Gambas:Video CNN]