Selain menimpa Bangladesh, bencana serupa juga merusak infrastruktur, rumah, pohon di negara bagian Benggala Barat, India dan Bangladesh barat daya.
Lebih dari 200 ribu orang di India dan sekitar 100 ribu orang di Bangladesh saat ini harus berbagi ruang sempit di tempat pengungsian. Hal ini menjadi dilema di tengah upaya menjaga jarak untuk menghindari penularan virus corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga berupaya mengumpulkan sisa barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
Angin berkecepatan 165 kilometer per jam yang dibawa oleh topan Amphan merusak atap bangunan. Sementara sumur yang menjadi sumber air minum warga kini telah tercemar oleh air laut.
[Gambas:Video CNN]
Nosim Begu, seorang janda 71 tahun mengatakan ia tidak bisa menyelamatkan apapun ketika badai menghantam Bangladesh.
"Semua barang dan perabotan berharga telah rusak disapu badai, saya tidak bisa menyelamatkan apa pun," ujar Begum.
Topan Amphan menerjang India dan Bangladesh dengan skala kekuatan kategori tiga memiliki kecepatan 170 kilometer per jam (kpj), dan meningkat menjadi 190 kpj ketika sampai di daratan pada Jumat (22/5) pekan lalu.
Meski kekuatan badai semakin lemah setelah melewati Bangladesh, tetapi topan tersebut mendorong gelombang air laut hingga sejauh 25 kilometer ke daratan.
Sejumlah daerah di India, termasuk kota Kolkata, digenangi banjir. Rumah-rumah yang terletak di pinggiran Kolkata, rusak karena atap bangunan tersapu angin topan.
Sejumlah ruas jalan di daerah Howrah hingga kawasan pemukiman sempat tergenang banjir.
Bencana alam ini semakin mempersulit pemerintah India dan Bangladesh karena mereka juga tengah menghadapi pandemi virus corona. (afp/evn)