Eks Presiden Bush Sebut Demo Antirasisme Kegagalan Tragis AS

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 11:33 WIB
NORTH CHARLESTON, SC - FEBRUARY 15: Former President George W. Bush speaks in support of his brother, Republican presidential candidate Jeb Bush,at a campaign rally on February 15, 2016 in North Charleston, South Carolina. The Bush campaign is seeking support in South Carolina, where George W. Bush is popular with the state's large military population, before the Republican primary on Saturday, February 20.   Spencer Platt/Getty Images/AFP Mantan Presiden AS George W. Bush. (Foto: Spencer Platt/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Presiden George W. Bush mengatakan gelombang protes anti rasisme yang dipicu kematian George Floyd menunjukkan kegagalan tragis bagi Amerika Serikat.

Dalam sebuah pernyataan, Bush mengatakan jika gelombang protes yang memicu kerusuhan dan aksi penjarahan selama sepekan terakhir sebagai sebuah kegagalan.

"Itu (aksi demo) merupakan sebuah kegagalan saat bayak orang keturunan Afrika-Amerika, terutama laki-laki muda dilecehkan dan diancam di negara mereka sendiri," tulis Bush dalam pernyataannya seperti mengutip AFP.


Bush menyampaikan duka cita atas kematian Floyd yang meninggal lantaran kehabisan napas setelah lehernya 'dikunci' oleh polisi kulit putih di Minneapolis pada 25 Mei lalu.

"Tragedi ini (rasisme) - dalam serangkaian tragedi serupa - telah menimbulkan pertanyaan yang sejak lama terpendam: Bagaimana kita mengakhiri rasisme sistemik di masyarakat kita?," tulis mantan presiden AS yang menjabat dari 2001-2009 tersebut.

"Sudah saatnya bagi Amerika untuk memeriksa kembali kegagalan tragis atas isu rasisme ini."

Dalam kritiknya itu Bush tidak secara gamblang menyalahkan Presiden Donald Trump yang sama-sama politisi dari Partai Republik.

[Gambas:Video CNN]

Ia mendesak untuk mendengarkan suara dari etnis minoritas dan orang-orang yang berduka atas insiden kematian Floyd.

"Mereka yang berusaha membungkam suara-suara itu (etnis minoritas) tidak mengerti arti Amerika - atau bagaimana itu menjadi tempat yang lebih baik," ujarnya.

Demonstrasi anti-rasisme hingga memicu kerusuhan berawal dari kematian seorang warga kulit hitam asal Minneapolis, George Floyd, pada 25 Mei lalu oleh seorang petugas kepolisian.

Demonstrasi pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS, bahkan dunia. 

Semula protes berlangsung damai namun kerusuhan disertai aksi penjarahan tidak terelakkan dalam unjuk rasa yang terjadi di beberapa wilayah di AS.

Trump sempat mengisyaratkan untuk mengerahkan pasukan militer demi menindak demonstran. Namun permintaan itu mendapat penolakan dari sejumlah gubernur negara bagian. (AFP/evn)