Demo Kematian George Floyd di Yunani Berakhir Rusuh

CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2020 16:27 WIB
Masked protesters hurl petrol bombs towards the direction of riot police officers during minor scuffles outside the U.S. embassy in Athens, Wednesday, June 3, 2020, following a demonstration over the death of George Floyd, a black man who died after being restrained by Minneapolis police officers on May 25. Greek police have fired tear gas to disperse youths who attacked them following an otherwise peaceful demonstration by about 4,000 people. (AP Photo/Lefteris Pitarakis) Pedemo kematian George Floyd di Athena, Yunani bentrok dengan polisi anti huru hara pada Rabu (3/6). (Foto: AP/Lefteris Pitarakis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi solidaritas antirasisme usai kematian George Floyd di Athena, Yunani berujung bentrok dengan polisi anti huru hara pada Rabu (3/6). Awalnya aksi unjuk yang diikuti sekitar 3.000 pedemo sempat berlangsung damai.

Massa yang menggelar aksi di dekat kantor kedutaan besar Amerika Serikat di Athena membawa poster yang mengutuk aksi rasisme hingga menewaskan George Floyd.

Bentrok berawal ketika anak-anak muda yang bergabung dalam unjuk rasa melempari bom molotov ke arah polisi. Selain itu, sejumlah pengunjuk rasa juga membakar tempat sampah.


Laporan AFP mengungkapkan polisi kemudian membalas dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Bentrokan antara polisi dan pedemo juga terjadi sehari sebelumnya di Paris, Prancis. Sekitar 20 ribu pedemo turun ke jalanan Paris untuk memprotes kematian Adam Traore dan solidaritas atas kematian George Floyd.

Kendati tidak mengantongi izin, warga tetap berkumpul di utara Paris pada Selasa menjelang malam. Polisi kemudian menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi demonstrasi.

[Gambas:Video CNN]

Bentrokan sporadis lalu pecah di dekat jalan lingkar utama Paris, pedemo mulai melempar batu ke arah polisi yang direspons dengan tembakan peluru karet.

Beberapa pengunjuk rasa membakar tempat sampah, sepeda dan skuter untuk mengatur barikade menyala di jalanan.

Gelombang aksi antirasisme dipicu oleh kematian Floyd yang lehernya tertekan selama lebih dari delapan menit ketika 'dikunci' oleh polisi kulit putih di Minneapolis, AS pada 25 Mei lalu.

Protes pecah pertama kali di Minneapolis sehari usai kematian Floyd. Aksi serupa kemudian bergulir hingga ke penjuru AS dan negara-negara di Eropa dan Amerika Latin.

Hasil autopsi terbaru menunjukkan Floyd meninggal karena henti jantung atau kardiopulmoner. Berdasarkan tes swab post-mortem ia juga diketahui terinfeksi virus corona yang bertahan lama dari infeksi sebelumnya.

Kepala pemeriksa medis Andrew Baker mengungkapkan terdapat sejumlah memar dan luka di kepala, wajah, mulut, bahu, lengan dan kaki Floyd. Tidak ditemukan bukti bahwa luka-luka tersebut secara langsung menjadi penyebab kematiannya. (AFP/evn)