Pasutri Vietnam Racuni Anjing Peliharaan Warga untuk Dijual

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 17/06/2020 09:11 WIB
Ilustrasi Anak Anjing Ilustrasi anak anjing. (beethoven_e/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepasang suami-istri di Vietnam dituduh meracuni puluhan anjing dan kucing peliharaan untuk kemudian dijual dan disantap.

Kini keduanya telah ditangkap, kata media pemerintah, Senin (15/6).

Pemerintah setempat telah melarang pencurian hewan dan menjual daging curian ke toko-toko makanan dan juga pasar.


Penduduk di beberapa wilayah di Vietnam gemar menyantap daging anjing dengan ditemani oleh arak dari beras atau bir. Kucing, meskipun kurang populer, juga menjadi santapan dalam beberapa menu dan sering dijuluki sebagai harimau kecil.

Akan tetapi, hewan-hewan itu juga dibesarkan dengan penuh kasih sayang sebagai hewan peliharaan oleh banyak penduduk.

Pada Minggu (14/6), penduduk di provinsi Thanh Hoa utara sekitar 200 kilometer dari selatan Hanoi menemukan mayat hewan peliharaan mereka berserakan di jalan-jalan.

Mereka melaporkannya kepada polisi dan aparat menangkap seorang pria dan seorang wanita yang sedang mengumpulkan anjing dan kucing mati ke dalam tas, demikian menurut laporan situs berita VNExpress.

Sebuah situs berita milik pemerintah melaporkan polisi menemukan racun sianida dan alat untuk membantai 30 hewan di rumah sewaan milik pasangan itu.

Dilaporkan, pasangan itu mengaku menangkap anjing dan kucing di beberapa komunitas. Mereka berniat mengangkut hewan-hewan itu ke provinsi lain untuk menjual dagingnya.

Laporan itu tidak segera dikonfirmasi oleh kepolisian kepada AFP.

Kelompok perlindungan hewan internasional terus-menerus meminta pemerintah Vietnam melarang konsumsi daging anjing dan kucing, tapi sejauh ini konsumsi dua hewan itu di Hanoi telah menurun dan bisnisnya tetap menguntungkan.

Menurut Four News, sekitar 30 juta anjing di Asia dibunuh setiap tahun untuk diambil dagingnya, negara-negara itu meliputi Vietnam, China, dan Kamboja.

Jumlah kucing tidak diketahui pasti tapi kemungkinan jumlahnya mencapai jutaan, kata LSM itu.

Pada 2018, pejabat Hanoi mendesak warga mengurangi konsumsi daging anjing dengan mengatakan bahwa hidangan populer itu merusak citra kota dan berisiko menyebarkan rabies.

Ada beberapa peternakan daging anjing dan kucing di Vietnam, serta banyak hewan yang ditangkap secara ilegal.

Cara pemburu hewan membunuh hewan-hewan itu seringkali dinilai kejam dan pejabat kota setempat berharap aktivitas itu bisa dihapuskan secara bertahap.

[Gambas:Video CNN]

Namun pencurian kucing dan anjing di tingkat domestik terus berlanjut, meskipun pihak berwenang telah melakukan banyak penangkapan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk lima orang yang ditahan bulan lalu di provinsi Nghe An.

Pencuri anjing sudah sejak lama memantik kemarahan masyarakat Vietnam dan pernah dipukuli hingga tewas oleh penduduk desa di masa lalu. (ans/ayp)