China Kirim Ahli Bela Diri Sebelum Bentrok dengan India

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 00:43 WIB
An Indian man burns a photograph of Chinese president Xi Jinping during a protest against China in Ahmedabad, India, Tuesday, June 16, 2020. At least three Indian soldiers, including a senior army officer, were killed in a confrontation with Chinese troops along their disputed border high in the Himalayas where thousands of soldiers on both sides have been facing off for over a month, the Indian army said Tuesday. (AP Photo/Ajit Solanki) Warga India membakar foto Presiden China Xi Jinping terkait bentrokan antara dua negara yang terjadi 15 Juni lalu. Ilustrasi. (AP/Ajit Solanki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Media pemerintah China melaporkan Negeri Tirai Bambu telah mengerahkan ahli bela diri dan pendaki gunung di dekat perbatasan Himalaya untuk memperkuat pasukannya sebelum mereka terlibat bentrokan mematikan dengan India pada 15 Juni lalu. 

Surat kabar resmi militer China, National Defense News melaporkan ada lima divisi milisi baru yang dikerahkan, termasuk mantan anggota tim estafet pembawa obor Olimpiade Gunung Everest dan para petarung dari klub seni bela diri campuran (Mixed Martial Arts/MMA).

Komandan Tibet Wang Haijiang mengatakan pengerahan ahli bela diri dari Klub Pertempuran Enbo dilakukan untuk meningkatkan kekuatan organisasi dan mobilisasi pasukan. Namun Wang tidak menjelaskan apakah penempatan mereka terkait dengan konflik perbatasan.


China dan India memang sering terlibat bentrokan di perbatasan. Bentrokan terakhir terjadi pada 15 Juni lalu.

Bentrokan tersebut merupakan yang paling mematikan dalam lebih dari 50 tahun terakhir. Pasalnya, India mengatakan 20 tentaranya tewas akibat bentrokan itu.

Sementara dari sisi China, korban hingga kini belum diketahui. Kedua pihak saling menyalahkan atas bentrokan tanpa senjata api itu.

India mengklaim tentara China menyergap tentara mereka. Sementara China menuduh tentara India telah melakukan provokasi dengan dua kali melintasi Garis Kontrol Aktual atau batas tidak resmi mereka.

Kesepakatan bilateral antar keduanya sebenarnya sudah menyebutkan pencegahan penggunaan senjata. Namun ketegangan masih berlangsung sengit walau dengan senjata seadanya..

(ans/agt)

[Gambas:Video CNN]