Uni Eropa Akan Buka Perbatasan dengan Negara Lain Lagi

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 04:43 WIB
People cool down in the fountains as temperatures reached 30 degrees Celsius, at Toldbod Plads in Aalborg, Denmark, Wednesday July 24, 2019. (Henning Bagger/Ritzau Scanpix via AP) Uni Eropa akan membuka kembali akses perbatasan mereka dengan negara lain di tengah virus corona. Ilustrasi. (Henning Bagger/Ritzau Scanpix via AP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Uni Eropa bersiap untuk membuka kembali perbatasan mereka. Berdasarkan data yang dikutip dari CNN.com ada 15 negara di luar blok tersebut yang diusulkan supaya aksesnya ke Uni Eropa bisa dibuka kembali mulai Rabu pekan ini.

Di daftar 15 negara yang diusulkan tersebut salah satunya adalah Cina, negara dari mana virus corona pertama kali menyebar. Namun, UE hanya akan menawarkan masuknya China dengan syarat pengaturan timbal balik.

Sementara itu 14 negara lainnya adalah, Aljazair, Australia, Kanada, Georgia, Jepang, Montenegro, Maroko, Selandia Baru, Rwanda, Serbia, Korea Selatan, Thailand, Tunisia, Uruguay. 


AS tidak masuk dalam daftar negara yang diusulkan. Para diplomat tersebut tak memungkiri

Sejauh ini, para diplomat yang tidak diizinkan untuk membahas masalah ini sebelum 27 negara anggota UE mencapai kesepakatan. Para diplomat telah mengkonfirmasi bahwa pemerintah Uni Eropa telah diberikan waktu sampai  Selasa (30/6) siang untuk menyetujui daftar 15 negara yang aksesnya akan dibuka lagi tersebut.

Eropa menutup perbatasan mereka mulai Maret lalu setelah blok tersebut melihat tingkat infeksi Covid-19 makin meluas. Salah satu penutupan akses dilakukan terhadap AS. 

Sebagai informasi, AS sekarang memiliki kasus infeksi  dan jumlah kematian virus corona tertinggi di dunia. Para diplomat tak memungkiri tidak masuknya AS dalam daftar negara yang aksesnya ke Uni Eropa dibuka bakal menimbulkan reaksi dari Presiden AS Donald Trump.

Mereka yakin bahwa kebijakan tersebut nantinya akan dikritik Trump bermuatan politik. Tapi mereka meyakinkan bahwa keputusan yang dibuat nantinya bebas dari nuasa politik.

Mereka menyatakan keputusan tentang siapa yang aksesnya ke Uni Eropa bisa buka dan tidak bukanlah masalah politik. Tetapi kata mereka, keputusan nantinya dibuat berdasarkan ilmu yang memungkinkan negara-negara anggota menjaga keamanan warganya.

(CNN.com/agt)

[Gambas:Video CNN]