Australia Siap Beli Rudal Jarak Jauh untuk Antisipasi Konflik

The Sydney Morning Herald, CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 15:27 WIB
Australian Prime Minister Scott Morrison looks on during a meeting with US President Donald Trump in the Oval Office at the the White House in Washington, DC, September 20, 2019. (Photo by SAUL LOEB / AFP) Perdana Menteri Australia, Scott Morrison. Australia melakukan program perbaikan pertahanan dan kemampuan serang untuk melindungi diri dan sekutu dari sejumlah ancaman di wilayah Indo-Pasifik. (SAUL LOEB / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Australia memutuskan akan membeli rudal jarak jauh anti-kapal, menyusul meningkatnya ancaman dari kekuatan asing, termasuk China.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, pada Rabu (1/7) kemarin menyampaikan soal program pembaruan besar-besaran terhadap strategi pertahanan negara, termasuk pembelian rudal anti-kapal jarak jauh dari Amerika Serikat, untuk melengkapi armada jet tempur Boeing F/A-18E/F Super Hornets.

Australia juga berencana membeli rudal jarak jauh yang dapat diluncurkan dari darat, termasuk rudal hipersonik yang bisa menempuh lima kali kecepatan suara.

Morrison mengatakan perbaikan pertahanan dan kemampuan serang dilakukan untuk mempertahankan Australia dan sekutunya melawan sejumlah ancaman, dan fokus terhadap perlindungan diri dan sekutu di wilayah Indo-Pasifik.

Dilansir The Sydney Morning Herald, Korea Utara dan China dalam beberapa tahun terakhir giat mengembangkan rudal balistik jarak jauh, yang dapat menempuh jarak lebih dari 5.500 kilometer.


Dalam pidatonya di Akademi Angkatan Pertahanan Australia di Canberra, Morrison mengatakan Australia 'harus menghadapi kenyataan bahwa negaranya telah pindah ke era strategis baru dan kurang ramah'. Dia menambahkan, meningkatnya ketegangan di kawasan itu membuat Australia harus mampu menahan pasukan musuh dari jarak yang lebih jauh.

"Ini termasuk mengembangkan kemampuan di bidang-bidang seperti senjata serangan jarak jauh, kemampuan dunia maya, dan sistem pengamanan wilayah," kata Morrison.

Strategi pertahanan satu dasawarsa pemerintahan Morrison juga membuka peluang mendapatkan persenjataan mutakhir, termasuk senjata energi terarah dan kendaraan peluncur hipersonik.

Australia bermaksud bergabung dengan negara besar dalam mengembangkan kemampuan khusus untuk memasuki ranah perang futuristik di ruang angkasa dan perang siber serta perang informasi.

Mereka mengandalkan AS untuk memasok dan mendukung persenjataan baru negaranya, tetapi semakin memperluas ketergantungan Australia kepada AS.

Australia sempat menolak tawaran untuk memasang rudal jarak jauh AS di Darwin. Namun, negara itu kini mempertimbangkan untuk membeli sekitar 200 rudal Lockheed Martin untuk armada Super Hornets dan mungkin pesawat lainnya. Pembelian rudal ini akan menelan anggaran sekitar AU$ 800 juta.


Rudal baru itu diharapkan lebih canggih dari rudal anti-kapal Harpoon yang mereka miliki saat ini. Harpoon diperkenalkan pada awal 1980-an dan hanya memiliki jangkauan 124 kilometer.

Morrison mengatakan ketegangan atas klaim territorial meningkat di kawasan Indo-Pasifik, termasuk bentrokan perbatasan yang disengketakan antara India dan China, Laut China Selatan, dan Laut China Timur.

"Risiko salah perhitungan dan bahkan konflik semakin tinggi," kata Morrison.

Morrison mengatakan hubungan antara China dan AS sangat kacau ketika mereka bersaing untuk supremasi politik, ekonomi dan teknologi.

"Jepang, India, Republik Korea, negara-negara Asia Tenggara, dan Pasifik semuanya memiliki peranan-beberapa pilihan untuk membuat dan ambil bagian untuk bermain. Begitu juga Australia," kata Morrison.

Penguatan pertahanan akan memprioritaskan fokus geografis Angkatan Bersenjata Australia mulai dari Samudra Hindia, Asia Tenggara, Papua Nugini hingga barat daya Pasifik.


[Gambas:Video CNN]

Strategi ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu untuk membentuk lingkungan strategis Australia, mencegah ancaman terhadap kepentingan negara, dan mampu mengerahkan kekuatan militer yang tepat bila diperlukan.

Australia kemungkinan akan memusatkan pertahanannya di kawasan Indo-Pasifik.

Strategi itu menekankan untuk membentuk lingkungan strategis dengan mengintensifkan hubungan dengan negara-negara sahabat di kawasan itu, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.

Ini bertujuan untuk menghentikan negara-negara yang tidak bersahabat membangun pangkalan militer baru dan infrastruktur di wilayah tersebut. Meskipun nama China tidak disebut, tetapi negara itu diduga adalah penyebab besar kekhawatiran di antara para ahli strategi pemerintah Australia.

Guna menopang rencana tersebut, Australia menjanjikan menggelontorkan anggaran AU$ 270 miliar selama sepuluh tahun.

Pemerintah Australia juga mengalokasikan AU$ 7 miliar untuk program perang antariksa, AU$ 15 miliar untuk program perang siber dan informasi, AU$ 55 miliar untuk pertahanan darat, AU$ 65 miliar untuk pertahanan udara, dan AU$ 75 miliar untuk pertahanan maritim.

Guna memenuhi target, sejumlah kontrak pertahanan yang nilainya lebih rendah bakal dibatalkan untuk menghemat dan mengalihkan anggaran.


Anggaran pertahanan untuk tahun depan diperkirakan akan mencapai 2 persen dari pendapatan domestik bruto Australia sebelum pandemi virus corona.

Dalam rapat virtual antara menteri luar negeri dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, menyatakan negaranya akan menggelontorkan AU$ 23 juta untuk membantu negara-negara ASEAN untuk meningkatkan keamanan kesehatan, menjaga stabilitas, dan melakukan pemulihan ekonomi segera pasca pandemi virus corona.

Selain itu, Badan Pertahanan Siber Australia akan merekrut 500 pegawai baru dengan anggaran sebesar AU$ 1,35 miliar.

Juru bicara kelompok oposisi Australia, Kristina Keneally, mengatakan dia menyambut pengumuman anggaran pertahanan itu. Namun menurut dia, hal itu bukanlah bagian dari strategi.

"Kami berharap pemerintah akhirnya memberikan strategi keamanan siber. Kami akan bekerja dengan pemerintah untuk memastikan keamanan nasional kami, termasuk keamanan siber, tidak hanya dipertahankan tapi diperkuat," kata Keneally.

(ans/ayp)