Demonstrasi Berdarah Ethiopia, Polisi Sebut 166 Orang Tewas

CNN Indonesia | Minggu, 05/07/2020 03:15 WIB
Police dismantle barricades constructed by supporters of former President Evo Morales, on the outskirts of Cochabamba, Bolivia, Saturday, Nov. 16, 2019. Officials now say at least eight people died when Bolivian security forces fired on Morales supporters the day before, in Sacaba. The U.N. human rights chief says she's worried that Bolivia could Ilustrasi demo ricuh. (AP Photo/Juan Karita)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setidaknya 166 orang tewas dalam demonstrasi yang berujung kericuhan yang memprotes pembunuhan penyanyi Hachalu Hundessa, di Ethiopia.

Bintang pop Hachalu, yang merupakan anggota etnis Oromo yang terbesar di Ethiopia, ditembak mati oleh penyerang tak dikenal di Addis Ababa pada Senin (29/6) malam. Hal ini memicu ketegangan etnis di negara itu.

"Setelah kematian Hachalu, 145 warga sipil dan 11 pasukan keamanan telah kehilangan nyawa mereka dalam kerusuhan di kawasan itu," kata Girma Gelam, wakil komisaris polisi wilayah Oromia, dalam pernyataannya, dikutip dari AFP.


Sementara, sepuluh korban tewas lainnya meninggal di Addis Ababa.

Girma mengatakan para korban "menderita luka serius". Dalam demo itu, pihaknya juga menangkap 1.084 orang.

Para pejabat mengaitkan kematian itu dengan dugaan kekerasan oleh petugas keamanan dan kekerasan antar-etnis.

Girma menambahkan bahwa kerusuhan saat ini sudah benar-benar berhenti.

Selama bertahun-tahun, Hachalu, lewat musiknya, menggugah kepekaan warga Oromos terkait diskriminasi ekonomi dan politik selama rangkaian unjuk rasa anti-pemerintah yang menggulingkan Perdana Menteri Abiy Ahmed pada 2018.

(AFP/arh)

[Gambas:Video CNN]