Terapkan Karantina, Italia Buka Pintu bagi 180 Manusia Perahu

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 05:46 WIB
A member of Aquarius rescue ship run by NGO SOS Mediterranee and Medecins Sans Frontieres holds a girl after she was recovered with others by Santa Lucia merchant ship in the Mediterranean Sea, 20 nautic miles from the Libyan coast, on August 1, 2017.
The bodies of eight migrants have been found at sea off the coast of Libya by rescuers coming to the aid of four rubber dinghies, the Italian coastguard said on August 1. Some 500 survivors in total were being pulled to safety, the coastguard told AFP. Spanish NGO Proactiva Open Arms, which was taking part in the rescues, said the bodies had been recovered by the Santa Lucia merchant ship.  / AFP PHOTO / Angelos Tzortzinis Ilustrasi evakuasi imigran oleh petugas. (Foto: AFP PHOTO / Angelos Tzortzinis)
Jakarta, CNN Indonesia --

Italia mengizinkan kapal relawan, Ocean Viking, untuk memindahkan 180 imigran yang diselamatkan di Laut Mediterania ke sebuah kapal pemerintah untuk kemudian menjalani karantina.

"Kami telah menerima instruksi dari otoritas maritim Italia untuk menurunkan mereka yang ada di Porto Empedocle," seorang juru bicara badan amal SOS Mediterranee kepada AFP, Minggu (6/7).

Para imigran pun menyambut gembira pengumuman tersebut dengan bernyanyi, berteriak, dan berswafoto.


"Kami sangat bahagia! Kami telah menempuh perjalanan jauh. Libya seperti neraka dan sekarang setidaknya kami bisa melihat ujungnya. Saya perlu memberi tahu keluarga saya bahwa saya masih hidup," kata Rabiul, 27, salah satu imigran dari Bangladesh.

Ocean Viking kini menuju pelabuhan lokasi para migran akan ditransfer ke kapal yang disewa pemerintah, Moby Zaza. Mereka kemudian akan dikarantina lebih dulu di atas kapal selama 14 hari.

"Saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka dipersilahkan untuk pindah ke Moby Zaza, kemungkinan besok pagi," kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Dino Martirano kepada AFP.

Para imigran diketahui telah berada di kapal Ocean Viking selama lebih dari seminggu. Berbagai perkelahian dan upaya bunuh diri mewarnai realitas di kapal itu. Hal tersebut mendorong badan amal tersebut untuk menyatakan keadaan darurat pada Jumat (3/7).

Infografis mengenai rute perjalanan imigran gelap menuju australia dan eropaFoto: Laudy Gracivia

Sebelumnya, kapal Ocean Viking terkatung-katung di Laut Mediterania menunggu izin dari Pemerintah Italia atau Malta untuk menurunkan para imigran.

Kehidupan kedua

AFP melaporkan dalam sepekan terakhir ketegangan di dalam kapal meningkat seiring para imigran yang semakin putus asa untuk mencapai daratan. Yang lainnya menjadi bingung karena tidak dapat menelepon keluarga mereka untuk memberi tahu bahwa mereka aman.

Seorang anggota kru, Ludovic, mengatakan dia belum pernah menyaksikan kekerasan semacam itu di atas kapal penyelamat,

Para imigran ini, yang berasal dari Pakistan, Afrika Utara, Eritrea, Nigeria, dan negara lainnya, diambil setelah melarikan diri dari Libya dalam empat evakuasi terpisah oleh Ocean Viking pada 25 dan 30 Juni.

"Sekarang, kehidupan kedua ada di depan kita, setelah semua yang kami lalui di Libya. Terima kasih Italia karena menawarkan kami kehidupan kedua, dan kepada SOS Mediteranee karena telah menyelamatkan yang pertama," kata Emmanuel, 32, imigran dari Ghana.

Para imigran ini, termasuk 25 anak-anak yang sebagian besarnya tidak ditemani oleh orang dewasa, dan dua wanita, dengan salah satunya sedang hamil.

Terkadang, semua anggota tim penyelamat SOS Mediterranee berada di geladak untuk menenangkan situasi. Beberapa ancaman diarahkan pada penyelamat itu sendiri.

Infografis Rekam Jejak Penindasan Etnis RohingyaFoto: CNN Indonesia/Laudy Gracivia

Salah satu sumber konfliknya adalah isu bahwa pihak LSM bersekongkol dengan pihak berwenang Italia untuk mendapat uang untuk setiap hari para imigran tetap di kapal.

Pada Kamis (2/7), dua imigran melemparkan diri ke Laut Mediterania tetapi dapat diselamatkan.

Diketahui, lebih dari 100 ribu imigran berusaha melintasi Laut Mediterania tahun lalu dengan lebih dari 1.200 di antaranya meninggal dalam upaya itu.

(AFP/arh)

[Gambas:Video CNN]