Markas Militer Turki di Libya Digempur Serangan Udara

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 08:43 WIB
An explosion caused by an Israeli airstrike on a building in Gaza City, Saturday, May 4, 2019. Palestinian militants in the Gaza Strip fired at least 90 rockets into southern Israel on Saturday, according to the Israeli military, triggering retaliatory airstrikes and tank fire against militant targets in the blockaded enclave and shattering a month-long lull in violence. (AP Photo/Khalil Hamra) Ilustrasi serangan udara. (AP Photo/Khalil Hamra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Markas militer Turki di pangkalan udara Al-Watiya, Libya digempur serangan udara pada Minggu malam (5/7) waktu setempat. Pemerintah Libya yang diakui PBB menyebut serangan tersebut dilakukan oleh pasukan udara asing yang mendukung pasukan pemberontak.

Pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) merebut kembali pangkalan udara Al-Watiya, dekat Tripoli, ibu kota Libya dari pasukan pemberontak pimpinan Khalifa Haftar beberapa waktu lalu.

Dalam konflik Libya, Turki mendukung pasukan GNA yang diakui PBB, berbasis di Tripoli melawan pasukan pemberontak pimpinan Khalifa Haftar.


"Serangan semalam terhadap pangkalan Al-Watiya dilakukan oleh angkatan udara asing untuk mendukung penjahat perang dalam upaya meraih kemenangan untuk pasukan Haftar," kata Wakil Menteri Pertahanan GNA Salah Namrush," seperti dikutip dari AFP.

Namun Namrush tidak menjelaskan secara detail angkatan udara asing mana yang diduga berada di balik serangan itu.

Mengutip sumber-sumber militer, media pro-Haftar sebelumnya mengatakan serangan itu dilakukan oleh pesawat tak dikenal. Sumber-sumber menyebut tentara Turki di pangkalan itu menjadi korban.

Seorang pejabat senior Turki mengkonfirmasi kerusakan material di pangkalan itu tetapi membantah ada korban jiwa.

Kantor berita Turki Anadolu, mengutip pejabat militer GNA yang tidak disebutkan namanya, juga mengungkapkan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

"Perangkat yang baru-baru ini dikerahkan untuk memperkuat pertahanan udara rusak," kata Anadolu.

Libya berada dalam kondisi kacau balau sejak penggulingan diktator Moamer Kadhafi yang didukung NATO pada 2011 lalu. Penggulingan itu menyebabkan timbulnya sejumlah faksi membingungkan yang sama-sama berusaha untuk memegang kendali.

Pasukan Haftar diketahui mendukung pemerintah saingan yang berbasis di Libya timur dan menolak mengakui pemerintah yang didukung oleh PBB pimpinan Fayez al-Sarraj.

(dea)

[Gambas:Video CNN]