Hujan Deras Hambat Evakuasi Korban Banjir Jepang

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 20:02 WIB
A car stands vertically on a muddy road after being washed away by flood, in Hitoyoshi, Kumamoto prefecture, southwestern Japan, Sunday, July 5, 2020. Heavy rain in the Kumamoto region triggered flooding and mudslides Saturday and left dozens still being stranded at their homes and other facilities. (Kyodo News via AP) Banjir bandang melanda Jepang. (Foto: Kyodo News via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hujan deras yang turun pada Senin (6/7) menghambat upaya evakuasi korban banjir dan tanah longsor di prefektur Kumamoto, Jepang. Hujan diperkirakan akan tetap turun sepanjang hari.

Hujan lebat yang turun sejak Sabtu (4/7) pagi menyebabkan banjir yang diperkirakan menelan korban jiwa hingga 50 orang. Banjir menyebabkan sungai meluap hingga membanjiri daerah dataran rendah.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkirakan hujan deras akan berlanjut hingga Selasa (7/7) sore. JMA mengeluarkan perintah evakuasi tidak wajib bagi sekitar setengah juta orang di Jepang barat daya.


Perdana Menteri Shinzo Abe meminta warga untuk menyelamatkan diri lantaran hujan lebat masih melanda sejumlah wilayah di Jepang.

Kumamoto menjadi daerah yang terkendala dampak terburuk, terlebih cuaca buruk menghambat upaya penyelamatan korban. Sedikitnya 13 orang dilaporkan masih hilang.

"Karena hujan lebat, kami terpaksa membatalkan beberapa penerbangan darurat helikopter darurat di atas zona bencana," kata pejabat manajemen bencana setempat, Tsubasa Miyamoto kepada AFP.

Seorang petugas pemadam kebakaran di wilayah barat Kagoshima mengatakan mereka menggunakan perahu untuk menyelamatkan sebelas orang, tapi tetap kesulitan menjangkau korban lain yang masih terjebak.

[Gambas:Video CNN]

"Panggilan datang dari orang-orang yang mengatakan kepada kami bahwa mereka ingin meninggalkan rumah, tetapi mereka tidak dapat melakukannya sendiri," ujar petugas tersebut.

Salah satu daerah yang terendam banjir terparah, warga menuliskan kata-kata seperti 'beras, air, atau SOS' sebagai penanda bagi tim SAR. Sementara yang lain melambaikan handuk untuk meminta bantuan.

Di sebuah panti jompo, 14 orang dikhawatirkan meninggal ketika air dari sungai terdekat mulai menggenai lantai dasar. Penghuni panti yang menggunakan kursi roda kesulitan untuk menuju tempat yang lebih tinggi untuk menghindari genangan air.

Layanan darurat dibantu warga setempat menggunakan rakit dan berhasil menyelamatkan sekitar 50 orang, termasuk pekerja panti jompo.

Bukan hanya dibayangi cuaca buruk, upaya evakuasi juga terhambat kekhawatiran penularan virus corona. Partisi telah dibuat di pusat-pusat evakuasi untuk memastikan warga menerapkan jaga jarak. Para pengungsi juga didorong untuk sering mencuci tangah, membersihkan, dan mengenakan masker.

"Dalam beberapa kasus, bisa lebih berbahaya untuk pergi ke tempat pengungsian (daripada tinggal di rumah)," ujar seorang pejabat JMA.

Juru bicara pemerintah Yoshihide, Suga mengatakan bahwa 19 orang dipastikan meninggal terseret banjir, sementara enam lainnya dalam kondisi kritis.

Suga mengatakan para pjebata sedang menyelidiki kematian 24 lainnya untuk mengonfirmasi adanya hubungan langsung dengan banjir. Dia mengatakan lebih dari 40 ribu personil dari kepolisian dan pemadam kebakaran dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan korban.

Jepang tengah berada dalam musim hujan tahunan yang sering mengakibatkan banjir dan tanah longsor yang mematikan. Perubahan iklim juga berperan karena atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak air, meningkatkan risiko, dan intensitas banjir dari curah hujan ekstrim.

(AFP/ ans/evn)