Siap Hadapi China, Taiwan Perbarui Rudal Patriot Buatan AS

CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 12:10 WIB
US army officers stands in front a US Patriot missile defence system during a joint Israeli-US military exercise Sistem anti-rudal Patriot buatan Amerika Serikat. (JACK GUEZ / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat sepakat memperbarui sistem pertahanan rudal Patriot milik Taiwan senilai US$620 juta atau Rp8,9 triliun.

Pembaruan alat utama sistem pertahanan (alutsista) ini dilakukan Taiwan di tengah ancaman provokasi China yang terus meningkat.

"Penerima (Taiwan) akan menggunakan kemampuan alat-alat tersebut sebagai sistem pertahanan terhadap ancaman regional dan memperkuat pertahanan dalam negeri. Penerima tidak akan mengalami kesulitan menggunakan peralatan ini menjadi bagian dari angkatan bersenjatanya," kata Kementerian Luar Negeri AS melalui pernyataan pada Kamis (9/7).


Kemlu AS menuturkan Taiwan telah mengajukan minat membeli sejumlah komponen demi meningkatkan kapasitas dan kapabilitas rudal Patriot "demi mendukung masa operasional" senjata itu selama 30 tahun.

Perusahaan industri pertahanan AS, Lockheed Martin, akan menjadi kontraktor utama pembaruan sistem rudal tersebut.

Langkah ini kemungkinan memicu amarah China terhadap Taiwan dan AS. China menganggap Taiwan sebagai wilayah pembangkang yang ingin memerdekakan diri.

Belakangan, China kerap mengerahkan sejumlah jet tempur untuk menerobos wilayah pertahanan udara Taiwan.

Sementara itu, relasi China dan AS terus memanas terutama terkait pandemi virus corona (Covid-19), isu Hong Kong, dan sengketa di Laut China Selatan.


AS memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan akibat kebijakan prinsip Satu China atau One China Policy. Namun, AS memiliki perjanjian hukum dengan Taiwan yang mengikat Negeri Paman Sam untuk menyediakan sarana pertahanan bagi wilayah tersebut.

"Penjualan (rudal) yang diusulkan ini sejalan dengan kepentingan nasional, ekonomi, dan keamanan AS karena mendukung upaya penerima (Taiwan) untuk memodernisasi angkatan bersenjata dan untuk mempertahankan kemampuan pertahanan yang kredibel," ujar Kemlu AS seperti dilansir dari Channel News Asia.

Sementara itu, Kemlu Taiwan mengatakan pihaknya berharap kontrak penjualan senjata ini bisa segera diproses bulan depan. Taipei menuturkan penjualan senjata ini merupakan yang ketujuh dilakukan pemerintahan Presiden Donald Trump.

"Penjualan ini sepenuhnya menunjukkan pentingnya menjaga keamanan nasional kami, mengkonsolidasikan kemitraan keamanan kami dengan AS, dan bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di Selatan Taiwan dan kawasan," ucap Kemlu Taiwan.



Sejauh ini, Taiwan terus memperkuat sistem pertahanan yang sebagian besar didominasi oleh perangkat senjata buatan AS.

Meski begitu, China masih jauh unggul dibanding Taiwan lantaran memiliki jumlah alutsista yang lebih banyak.

Bahkan, Negeri Tirai Bambu terus menggenjot pembuatan sejumlah alutsista seperti pesawat tempur siluman hingga kapal induk sendiri demi menambah armada.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]