Rusia Sebut Polemik Hagia Sophia Urusan Dalam Negeri Turki

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 20:12 WIB
The Byzantine-era Hagia Sophia, one of Istanbul's main tourist attractions in the historic Sultanahmet district of Istanbul, is seen, top center, Saturday, July 11, 2020. Turkey's President Recep Tayyip Erdogan formally reconverted Hagia Sophia into a mosque and declared it open for Muslim worship, hours after a high court annulled a 1934 decision that had made the religious landmark a museum.The decision sparked deep dismay among Orthodox Christians. Originally a cathedral, Hagia Sophia was turned into a mosque after Istanbul's conquest by the Ottoman Empire but had been a museum for the last 86 years, drawing millions of tourists annually. (AP Photo/Emrah Gurel) Pemandangan Hagia Sophia dilihat dari Selat Bosporus. (AP/Emrah Gurel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Rusia menyatakan keputusan untuk memfungsikan Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid adalah urusan dalam negeri Turki.

"Kami melanjutkan dari fakta bahwa ini adalah urusan dalam negeri Turki yang mana kami ataupun pihak lain tidak boleh ikut campur," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Vershinin, di Moskow, seperti dilansir AFP, Senin (13/7).

Vershinin hanya menekankan bagaimanapun juga Hagia Sophia adalah bangunan yang penting bagi peradaban dunia.


Pernyataan Vershinin bertolak belakang dengan Gereja Kristen Ortodoks Rusia. Pihak gereja menyatakan sangat kecewa dengan keputusan Turki.

"Keprihatinan jutaan umat Kristen tidak didengar," kata juru bicara Gereja Ortodoks Rusia, Vladimir Legoida.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Luksemburg, Jean Asselborn, mengkritik keputusan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang memfungsikan Hagia Sophia menjadi masjid.

"Yang saya lihat apa yang terjadi saat ini terhadap Hagia Sophia adalah sebuah masalah," kata Asselborn di Brussels, Belgia, seperti dilansir Associated Press.

Pada 10 Juli lalu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memfungsikan kembali Hagia Sophia yang berada di Istanbul sebagai masjid. Keputusan ini menuai kekecewaan dari beberapa negara termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan Yunani.

Bahkan, Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pun telah melayangkan protes resmi atas alih fungsi Hagia Sophia menjadi masjid, terutama karena pemerintah Turki tidak mengkomunikasikan hal itu sebelumnya.

Hagia Sophia dibangun pada tahun 537-1435 M. Di zaman Kekaisaran Byzantium, bangunan yang terkenal akan arsitektur dan kubah besarnya itu merupakan sebuah gereja.

Ketika Sultan Muhammad al Fatih (Mehmed II) merebut Konstantinopel (Istanbul) dari kekuasaan Kekaisaran Byzantium pada 1453, dia tidak menghancurkan gereja itu tetapi mengubahnya menjadi masjid.

[Gambas:Video CNN]

Akan tetapi, pemerintah Turki di bawah kepemimpinan mendiang Presiden Mustafa Kemal yang beraliran nasionalis sekuler memutuskan menjadikan Hagia Sophia sebagai museum.

Upaya Turki untuk kembali memfungsikan Hagia Sophia menjadi masjid sebenarnya sudah dilakukan sejak 2005. Dua tahun lalu Mahkamah Konstitusional Turki sempat menolak usulan tersebut.

Erdogan mengatakan warga bisa melakukan ibadah di Hagia Sophia mulai 24 Juli mendatang. Meski begitu, Erdogan memastikan Hagia Sophia tetap terbuka untuk umum.

(Associated Press, AFP/ayp)