Ribuan Warga Jerman Unjuk Rasa Tolak Protokol Kesehatan

CNN Indonesia | Minggu, 02/08/2020 16:30 WIB
Unjuk rasa di Berlin, Jerman, menentang peraturan pemerintah terkait protokol kesehatan dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Unjuk rasa di Berlin, Jerman, menentang peraturan pemerintah terkait protokol kesehatan dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. (AP/Markus Schreiber)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan orang berunjuk rasa di Berlin, Jerman, pada Sabtu (1/8). Unjuk rasa menentang peraturan pemerintah terkait protokol kesehatan dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Para pengunjuk rasa menyebut aksi protes tersebut sebagai 'Hari Kebebasan-Akhir Pandemi'. Melansir CNN, beberapa pengunjuk rasa terdengar melontarkan kalimat, "Kami adalah gelombang kedua".

Aksi tersebut dihadiri oleh sekitar 17 ribu orang yang terdiri atas loyalis konstitusional dan kelompok anti-vaksin. Mereka menilai bahwa peraturan pemerintah terkait penanganan pandemi telah melanggar hal dan kebebasan masyarakat.


Sejumlah spanduk protes pun terbentang. Beberapa bertuliskan, 'Jangan berpikir! Jangan memakai masker!'

Saat ini, Berlin memberlakukan protokol kesehatan dengan menjaga jarak fisik sejauh 1,5 meter dan penggunaan masker. Sayang, sebagian besar pengunjung rasa justru tidak mematuhi kedua protokol kesehatan saat beraksi.

"Rekan-rekan kami menggunakan pengeras suara untuk mendesak para pengunjuk rasa agar patuh terhadap protokol kesehatan," ujar salah seorang petugas kepolisian yang bertugas.

Pihak berwenang menegaskan bahwa pawai boleh berlanjut jika para pengunjuk rasa mengenakan masker dan menjaga jarak fisik. Namun, alih-alih mematuhi, hampir tak ada satupun peserta protes yang menggunakan masker.

Jerman mencatat 955 kasus positif Covid-19 dalam rentang waktu 24 jam untuk pertama kalinya sejak awal Mei pada Sabtu (1/8).

Mulanya, Jerman dinilai sukses menekan pandemi. Namun, angka kasus kemudian kembali melonjak hingga kini total tercatat lebih dari 200 ribu warga Jerman terinfeksi virus corona.

Robert Koch Institute, lembaga di Jerman terkait pengendalian dan pencegahan penyakit, mengatakan bahwa lonjakan angka kasus di Jerman disebabkan oleh lemahnya penegakkan aturan jarak fisik dan kesadaran akan kebersihan yang kurang dari masyarakat. Para pelancong yang kembali dari luar negeri juga berkontribusi terhadap peningkatan kasus.

Mulai Sabtu (1/8), Kementerian Kesehatan Jerman memberlakukan tes virus corona secara gratis untuk semua pelancong yang datang hingga 72 jam setelah kedatangan.

(asr)

[Gambas:Video CNN]