Afghanistan Desak Taliban Perpanjang Gencatan Senjata

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 00:49 WIB
Pemerintah Afghanistan mendesak Taliban untuk memperpanjang gencata senjata yang telah terjadi selama tiga hari saat perayaan Iduladha. Delegasi Taliban diminta untuk memperpanjang gencatan senjata. (Foto: KARIM JAAFAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Afghanistan mendesak kelompok militan Taliban untuk memperpanjang gencatan senjata yang terjadi selama tiga hari terakhir. Taliban sebelumnya mengumumkan gencatan selama tiga hari jelang perayaan Iduladha.

Taliban pada 29 Juli lalu mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari saat perayaan Iduladha mulai 31 Juli hingga 2 Agustus.

Juru bicara Presiden Ashraf Ghani, Sediq Sediqqi mengatakan pihaknya berharap Taliban tidak melanjutkan kekerasan di Afghanistan dan melanjutkan gencatan senjata.


"Kami berharap Taliban tidak akan melanjutkan kekerasan. Pemerintah Afghanistan mengambil tindakan dan langkah untuk mendorong proses perdamaian, sehingga harus dibalas oleh Taliban," ujar Sediqqi kepada AFP.

Permintaan Sediq disampaikan lantaran tidak ada laporan pertempuran di sebagian besar wilayah Afgahanistan selama gencatan senjata tiga hari.

Namun ketenangan tersebut sempat terusik ketika orang-orang bersenjata menyerbu sebuah penjara di Jalalabad, Afghanistan timur pada Minggu (2/8) malam. Amaq, outlet berita kelompok ISIS mengumumkan bahwa ISIS bertanggung jawab atas serangan di penjara yang menewaskan tiga orang dan beberapa korban luka-luka.

Taliban membantah terlibat dalam serangan tersebut.

Tawaran gencatan senjata untuk kedua kalinya ini muncul setelah Presiden Ashraf Ghani mengatakan pembicaraan damai dengan Taliban bisa dimulai dalam waktu seminggu.

"Semua mujahidin diperintahkan untuk menahan diri dari melakukan operasi terhadap musuh selama tiga hari tiga malam saat Iduladha," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari AFP.

Dalam sebuah pidato kenegaraan di istana presiden pada akhir Juli lalu, Ghani  mendesak Taliban untuk menyetujui gencatan senjata secara permanen dan komprehensif selama proses kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang telah terjadi selama 19 tahun.

"Bola (kendali) kini ada di pengadilan Taliban dan komunitas internasional," ujar Ghani.

Ghani mengatakan jika pihaknya berkomitmen sesuai rencana untuk membebaskan tahanan Taliban sesuai kesepakatan damai dengan AS yang ditandatangani pada Februari lalu.

Dalam kesepakatan damai antara AS dan Taliban pada awal 2020 lalu, dituliskan bahwa kelompok pemberontak tersebut harus memberikan 'pesan yang jelas' agar pihak yang mengancam negara barat 'tidak punya tempat di Afghanistan'. Ini bisa jadi diartikan, Taliban diminta mengusir kelompok teroris seperti Al-Qaeda dan ISIS pergi dari Afghanistan.

Dalam perjanjian yang ditandatangani pada Sabtu (29/2) lalu di Doha, Qatar, kedua pihak setuju agar Afghanistan menyerahkan 5.000 tahanannya kepada Taliban mulai 10 Maret. Sebagai gantinya, Taliban akan menyerahkan 1.000 tahanannya dan membuka pintu pertemuan.

Namun pihak Afghanistan sempat menolak kesepakatan untuk membebaskan 5.000 tahanan. Presiden Ghani sempat mengatakan jika pihaknya tidak ada komitmen terkait pertukaran dan penyerahan tahanan kepada Taliban terkait kesepakatan dengan AS.

(AFP/evn)

[Gambas:Video CNN]