Kematian Pekerja Migran Picu Aksi Demo di Afghanistan

CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2020 01:10 WIB
In this photograph taken on January 16, 2019, an Afghan resident wearing a face mask walks along an overpass amid heavy smog conditions in Afghanistan's capital Kabul. - Kabul residents have long run the gauntlet of suicide attacks and bombs. This winter, however, they face another deadly threat: air pollution. For weeks a thick layer of toxic smog has blanketed the sprawling city as cold air traps pollution caused by people burning coal, wood, car tyres and even garbage to stay warm. (Photo by WAKIL KOHSAR / AFP) / TO GO WITH: PHOTOESSAY - AFGHANISTAN-POLLUTION Ratusan warga Afghanistan menggelar aksi demo di depan kantor Konsulat Iran di Afghanistan bagian barat pada Senin (11/5).. Ilustrasi. (WAKIL KOHSAR / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan warga Afghanistan menggelar aksi protes di depan kantor Konsulat Iran di Afghanistan bagian barat pada Senin (11/5). Aksi massa itu dipicu oleh tewasnya sejumlah pekerja migran asal Afghanistan yang diduga tenggelam karena dipaksa terjun ke sungai oleh pasukan perbatasan Iran.

Seorang aktivis Nafisa Danish mempertanyakan soal hak asasi manusia dan mengutuk tindakan yang ia sebut pembantaian masal itu.

"Para pekerja dari Afghanistan yang pergi untuk mencari sesuap nasi, dibunuh oleh warga Iran dengan kejam dan brutal dan dilempar ke sungai," ujar Danish kepada AFP.


Demonstran lainnya, Suraya Ahmadi, meminta pemerintah Afghanistan, Iran, dan PBB untuk menyelidiki kasus itu.

"Kami menggelar aksi protes ini untuk mengutuk pembunuhan warga kami yang pergi ke Iran demi menopang keluarganya," ujar Ahmadi.

Sumber dari pemerintah Afghanistan menyatakan para pekerja migran itu tewas saat menyeberang secara ilegal ke Iran melalui Provinsi Herat.

Pekan lalu, Gubernur Distrik Gulran Abdul Ghani Noori menyebut sebanyak 55 pekerja migran dipaksa berenang di sungai oleh pasukan perbatasan Iran.

Sejauh ini, 18 jenazah pekerja migran ditemukan di Sungai Harirud. Pada tubuh mereka ditemukan tanda-tanda penyiksaan dan pemukulan.

Hasil forensik dan kesaksian pekerja yang selamat menyatakan petugas perbatasan Iran mencambuk pekerja dengan kabel lalu memaksa mereka untuk meloncat ke sungai.

Pemerintah Iran membantah tudingan itu dan mengklaim kejadian tersebut terjadi di wilayah Afghanistan.

Namun, Amerika Serikat yang tengah bersitegang dengan Iran mendukung pemerintah Afghanistan untuk melakukan investasi atas kasus itu lebih lanjut.

"Perlakuan kejam Iran dan dugaan penganiyayaan terhadap pekerja migran Afghanistan dalam laporan ini mengerikan," ujar Pelaksana Tugas Asisten Menlu AS untuk Asia Selatan Alice Wells melalui akun Twitternya pekan lalu.

Sebagai informasi, sekitar 1,5 juta hingga tiga juta pencari suaka asal Afghanistan tinggal dan bekerja di Iran. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh di proyek konstruksi.

Puluhan ribu pekerja dari Afghanistan kembali ke negara asalnya ketika wabah virus corona menghantam Iran. Namun, seiring pelonggaran pembatasan di Iran, banyak dari mereka yang kembali mencari kerja.

[Gambas:Video CNN]


(Afp/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK