Putra Mahkota Saudi Disebut Kirim Tim untuk Bunuh Eks Intel

CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2020 14:03 WIB
Mantan pejabat intelijen Arab Saudi, Dr. Saad Aljabri, menyatakan Putra Mahkota Muhammad bin Salman mengirim tim pembunuh untuk menghabisinya. Ilustrasi Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman. (AFP PHOTO / Fayez Nureldine)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang mantan badan intelijen Arab Saudi, Dr. Saad Aljabri, menyatakan bahwa Putra Mahkota Muhammad bin Salman sempat mencoba membunuhnya, dengan mengirim tim yang turut menghabisi jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Seperti dilansir CNN, Jumat (7/8), pernyataan itu disampaikan dalam berkas gugatan yang didaftarkan Aljabri di pengadilan distrik Washington D.C. Dia mengatakan sebelum tim pembunuh itu dikirim untuk menemukan lokasi persembunyiannya di Kanada, Pangeran Salman sudah menebar ancaman melalui WhatsApp supaya dia segera pulang atau akan membuat perhitungan.

Pemerintah Saudi ataupun kedutaan mereka di Washington D.C., belum memberikan tanggapan soal itu.


Menurut sumber mantan petinggi badan intelijen AS, mereka sudah mengendus rencana itu karena Pangeran Salman merasa Aljabri membahayakan kekuasaan sang ayah.

"Mereka tahu bin Salman mencoba membujuk Aljabri supaya pulang dan gagal, makanya bin Salman mencoba menghabisinya di luar negeri," kata sumber itu.

Dalam berkas itu, Aljabri menyatakan sembilan bulan sebelum tim pembunuh itu tiba di Kanada, Badan Penyelidik Federal AS (FBI) sudah memperingatkan anak lelakinya, Khalid.

Saat itu agen FBI menjemput Khalid di bandara Logan, Boston, Massachusetts. Dia lantas diberitahu bahwa nyawanya dan keluarganya dalam bahaya karena bin Salman memburu mereka dan diminta berhati-hati.

Saat dikonfirmasi, baik FBI maupun Badan Intelijen AS (CIA) belum memberikan komentar soal hal ini.

Aljabri merupakan tangan kanan Pangeran Muhammad bin Nayef. Keduanya menjalin hubungan erat dengan intelijen AS dan dilaporkan bahu-membahu memerangi terorisme setelah peristiwa serangan ke gedung World Trade Center di New York pada 11 September 2001.

Mereka disebut aktif bertukar informasi tentang jaringan organisasi teroris Al-Qaidah, dan menggagalkan serangkaian upaya serangan teror.

Akan tetapi, bin Nayef yang saat itu digadang menjadi pengganti Raja Salman didepak dari jalur suksesi oleh bin Salman pada 2017. Dia juga ditetapkan sebagai tahanan rumah.

Aljabri yang merasa dalam bahaya kabur ke Turki pada pertengahan 2017. Namun, dia lantas pergi ke Kanada. Dia terpaksa meninggalkan dua anaknya di Saudi, Sarah dan Umar.

Menurut mantan agen CIA, Douglas London, bin Salman sebenarnya berupaya menangkap Aljabri hidup-hidup ketimbang mati. Sebab, Aljabri diduga sangat mengetahui seluk beluk keluarga kerajaan.

"Pangeran bin Salman ingin menghapus ancaman yang ditimbulkan Aljabri, sebab dia mengetahui seluk beluk keluarga kerajaan dan semua yang terlibat serta jejaringnya. Hal itu membuat dia dinilai bisa menimbulkan masalah terhadap putra mahkota," kata London.

"Saya tidak menyatakan ada kemungkinan bin Salman hendak membunuh Aljabri, tetapi sepertinya bin Salman mengirim tim ke Kanada untuk mengawasi gerak-gerik Aljabri," lanjut London.

Saat ini Pangeran bin Salman tidak mengizinkan dua anak Aljabri pergi menyusulnya ke luar negeri. Aljabri sudah memohon supaya kedua anaknya dibolehkan pergi, tetapi Pangeran bin Salman hanya membalas melalui pesan WhatsApp, "Jika saya bertemu kamu saya akan menjelaskan semuanya. Saya ingin kamu pulang besok".

Pemerintah Saudi dilaporkan mengirim surat kepada Interpol untuk mengawasi Aljabri. Pangeran bin Salman juga dilaporkan menekan pemerintah Turki untuk segera mengekstradisi Aljabri.

Pada pertengahan Maret lalu dilaporkan Sarah yang kini berusia 20 tahun dan Omar yang berusia 22 diculik, dan sampai saat ini belum diketahui keberadaan dan kondisinya. Selain itu, seorang kerabat Aljabri dilaporkan diculik saat berada di jalanan Dubai, lalu dipulangkan dan disiksa aparat Saudi.

Menurut pengakuan sang kerabat, dia dihukum sebagai ganjaran karena menjadi saudara Aljabri.

Perebutan kekuasaan di tubuh keluarga kerajaan Arab Saudi terjadi antara Pangeran bin Salman dan sejumlah saudara ayahnya. Bahkan, bin Salman sempat memenjarakan sejumlah anggota kerajaan di hotel dengan tuduhan korupsi, sampai mereka berjanji akan setia terhadapnya.

Prince Mohammed bin Salman Al Saud, Crown Prince, Kingdom of Saudi Arabia,  attends a meeting with the United Nations Secretary-General Antonio Guterres (out of frame) at the United Nations on March 27, 2018 in New York. (Photo by Bryan R. Smith / AFP)Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman. (Bryan R. Smith / AFP)

Selain itu, Pangeran bin Salman juga bersikap agresif dalam membungkam pihak-pihak yang mengkritik kerajaan, salah satunya mendiang Jamal Khashoggi.

Di sisi lain, pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump justru menjalin hubungan erat dengan Arab Saudi dan Pangeran bin Salman. Keduanya meneken kesepakatan pembelian sejumlah alat utama sistem persenjataan, yang beberapa di antaranya digunakan Saudi dalam perang saudara di Yaman.

Aljabri menyatakan dia mendaftarkan gugatan itu di AS karena hendak memperkarakan perbuatan yang seharusnya terjadi Negeri Paman Sam.

Selain itu, Aljabri mengatakan Pangeran bin Salman menggunakan orang-orang dari lembaga nirlaba MiSK yang dipimpin Bader Alasaker untuk merekrut tim yang terus memburunya di AS.

Salah satu orang yang ikut memburunya justru rekan kerjanya, Bijad Alharbi. Bijad dilaporkan berhasil menemukan lokasi persembunyian Aljabri di Toronto.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Aljabri, Pangeran bin Salman memerintahkan dua tangan kanannya, Saud al-Qahtani dan Ahmad al-Assiri, untuk memantau operasi perburuan terhadap dirinya. Keduanya juga dilaporkan menjadi koordinator 15 orang tim pembunuh yang menghabisi Khashoggi ada 2 Oktober 2018.

Belakangan, al-Assiri dilaporkan dicopot setelah kasus kematian Khashoggi diusut oleh CIA dan Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pemerintah Kanada menyatakan tidak bisa mengomentari hal itu, tetapi mereka menyadari ada pihak-pihak yang mencoba membahayakan warga asing di Kanada.

"Ini sangat tidak bisa diterima dan kami tidak mengizinkan pihak asing mengancam keamanan nasional Kanada, atau keselamatan rakyat dan penduduk," kata Menteri Keselamatan Publik dan Siaga Bencana Kanada, Bill Blair.

(CNN/ayp)