Rusia Bantah Tuduhan Kerahkan Peretas Curi Data Vaksin Covid

CNN Indonesia | Selasa, 21/07/2020 08:34 WIB
Rusia membantah tuduhan bawah badan intelijen mereka mengerahkan peretas untuk mencuri data vaksin virus corona dari AS, Inggris dan Kanada. Ilustrasi peretas. (Istockphoto/ipopba)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Rusia menolak tuduhan Amerika Serikat, Inggris dan Kanada yang menyatakan mengerahkan peretas untuk mencuri data pengembangan vaksin virus corona (Covid-19).

"Saya tidak meyakini cerita itu, sama sekali tidak masuk akal. Di dunia ini, untuk menuduh negara terkait dengan kelompok peretas sangat tidak mungkin," kata Duta Besar Rusia di London, Inggris, Andrei Kelin, seperti dilansir AFP, Selasa (21/7).

Kelin membantah tuduhan Inggris yang menyatakan para peretas Rusia juga terlibat untuk mengacaukan pemilihan umum Inggris pada tahun lalu.


"Saya tidak melihat pentingnya menggunakan masalah itu untuk ikut campur. Kami sama sekali tidak ikut campur. Saat ini kami mencoba membangun hubungan baik," ujar Kelin.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, meyakini peretas Rusia berada di balik upaya pencurian data vaksin virus corona. Malah menurut dia, para peretas itu terkait dengan badan intelijen Rusia, berdasarkan hasil telaah Pusat Keamanan Siber Inggris (NCSC), AS dan Kanada.

"Kami sangat yakin bahwa badan mata-mata Rusia berada di balik serangan siber terhadap organisasi yang melakukan penelitian dan mengembangkan vaksin virus corona, entah untuk sabotase atau keuntungan," kata Raab.

Hubungan Rusia dan Inggris semakin memanas ketika mantan anggota badan intelijen Rusia (FSB), Sergei Skripal, yang kabur ke Inggris dibunuh menggunakan gas saraf novichok di Salisbury.

12 Tahun sebelumnya, mantan agen intelijen Rusia, Alexander Litvinenko, tewas dibunuh di London dengan racun radiasi nuklir.

Sampai saat ini Rusia membantah tuduhan terlibat dua kejadian itu.

(AFP/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK