Polisi Gerebek Media Milik Tokoh Pro-Demokrasi Jimmy Lai

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 13:45 WIB
Polisi menggerebek kantor media milik pengusaha sekaligus tokoh pro-demokrasi Jimmy Lai pada Senin (10/8). Ilustrasi protes UU Keamanan Nasional China terhadap Hong Kong. (Foto: AP/Vincent Yu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi menggerebek kantor surat kabar Apple Daily milik tokoh pro-demokrasi Hong Kong Jimmy Lai menyusul penangkapan atas dirinya pada Senin (10/8).

Sejumlah jurnalis yang bekerja di surat kabar milik Lai tersebut mengunggah cuplikan dramatis kedatangan polisi melalui media sosial. Dalam cuplikan video memperlihatkan petugas polisi melakukan penggerebekan.

Pemimpin surat kabar Apple Daily, Law Wai-kwong terlihat menuntut surat perintah penggeledahan dari aparat kepolisian.


"Beritahu kolega Anda untuk tidak berbicara sampai pengacara kami memeriksa surat perintah itu," ujar Law dalam cuplikan tersebut seperti dilansir dari AFP.

Para staf di kantor itu diperintahkan beranjak dari kursi dan berbaris sehingga polisi dapat memeriksa identitas mereka. Sementara petugas lainnya melakukan pencarian di seluruh ruang redaksi.

Dalam pernyataannya, polisi mengatakan penggeledahan itu dilakukan atas surat perintah pengadilan. Menurut keterangan mereka, surat itu ditujukan kepada semua staf.

Jimmy Lai termasuk di antara tujuh orang yang ditangkap di bawah undang-undang keamanan nasional di Hong Kong yang diberlakukan China pada awal Juli atas tuduhan melakukan kolusi dengan kekuatan asing.
 
"Mereka menangkapnya di rumahnya sekitar pukul 7 pagi," kata Mark Simon, seorang kolega dekat Lai kepada AFP.
 
Dalam sebuah pernyataan, polisi mengatakan tujuh orang itu ditahan karena dicurigai berkolusi dengan pasukan asing dan melakukan penipuan.

[Gambas:Video CNN] 

Penangkapan Jimmy Lai merupakan yang pertama kali dilakukan sejak pemberlakuan undang-undang kontroversial tersebut pada awal Juli lalu. Apple Daily dan Next Magazine merupakan media milik Lai yang kerap menyuarakan kritik atas kebijakan pemerintah China.

Bagi warga Hong Kong, Lai adalah sosok pahlawan. Ia merupakan pemilik media yang mandiri dan kritis, serta satu-satunya taipan yang kerap mengkritik kebijakan kontroversial China.

Sebaliknya, di mata pemerintah China sosok Lai merupakan seorang pengkhianat, tangan hitam terbesar di balik aksi protes massif pada tahun lalu. Ia juga dianggap sebagai kepala 'Geng Empat' baru yang berkonspirasi dengan negara asing untuk "merusak tanah air".

Dalam wawancara dengan AFP pertengahan Juni lalu atau dua pekan sebelum UU Keamanan Nasional diberlakukan di Hong Kong, Lai menyatakan diri siap masuk penjara.

"Saya siap masuk penjara. Jika itu (saat itu) datang, saya akan memiliki kesempatan untuk membaca buku-buku yang belum saya baca. Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan adalah menjadi positif," ujar Lai.
 
Dia menepis tuduhan melakukan kolusi dan mengatakan bahwa warga Hong Kong memiliki hak untuk bertemu dengan politisi asing.
 
Dalam wawancara itu juga, Lai menggambarkan undang-undang keamanan baru Beijing sebagai "lonceng kematian bagi Hong Kong" dan dia mengatakan bahwa dia khawatir pihak berwenang akan mengejar jurnalis yang bekerja di media miliknya.

(ans/evn)