Presiden Israel Berencana Mundur untuk Jadi PM

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 21:00 WIB
Presiden Israel, Reuven Rivlin berencana mundur untuk ikut dalam bursa pemilihan PM jika petahana Benjamin Netanyahu masih dibelit kasus korupsi. Presiden Israel, Reuven Rivlin (kanan), saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz (kiri). (AFP Photo/Gali Tibbon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Israel, Reuven Rivlin, dilaporkan hendak mengundurkan diri dan ingin bersaing memperebutkan kursi perdana menteri dengan petahana Benjamin Netanyahu.

Seperti dilansir Middle East Monitor yang mengutip surat kabar Maariv, Senin (10/8), sumber menyatakan Rivlin memang berniat mundur dan maju sebagai kandidat perdana menteri.

Dia dilaporkan akan menjadi kandidat terkuat dari Partai Likud, yang saat ini mendukung Netanyahu.


Rivlin dilaporkan menjadi politikus Israel yang diterima oleh faksi politik sayap kanan dan kiri.

Menurut Maariv, mereka mengkonfirmasi langsung rencana itu kepada Rivlin. Namun, dia menyatakan akan tetap menjalankan tugas sampai masa jabatannya berakhir.

Meski begitu, mereka menyatakan Rivlin tidak bakal menyelesaikan masa jabatannya.

Sumber itu mengatakan, Rivlin belum bersedia menugaskan Netanyahu untuk membentuk pemerintahan, dan tidak akan mendukung karena Netanyahu dibelit kasus korupsi.

Jika kondisi itu terjadi, Rivlin dipastikan akan mundur dan bersaing memperebutkan kursi perdana menteri. Jika hal itu terjadi, maka yang akan menjadi lawannya adalah Menteri Pertahanan Benny Gantz.

Gantz dan Netanyahu sudah meneken kesepakatan bahwa mereka akan berbagi masa jabatan perdana menteri. Hal itu diduga taktik Netanyahu untuk tetap berada di lingkar kekuasaan dan menghambat proses hukum yang saat ini sedang dijalani.

Dakwaan Netanyahu sudah dibacakan di depan pengadilan. Namun, Netanyahu menyatakan tidak bersalah dan membantah seluruh dakwaan korupsi itu.

Netanyahu dituduh telah berusaha secara ilegal memberi bantuan dengan imbalan liputan media yang positif untuk dirinya sendiri di surat kabar terlaris Israel, Yediot Aharonot.

Ia juga dituduh menerima cerutu, sampanye, dan perhiasan senilai 700 ribu shekel atau senilai hampir Rp3 miliar dari sejumlah orang sebagai imbalan atas bantuan.

Dari sekian tuduhan yang dialamatkan ke Netanyahu, yang dinilai paling serius adalah dugaan terkait tawaran ke konglomerat media, Shaul Elovitch, mengenai bantuan untuk mengubah peraturan.

Perubahan ini bernilai jutaan dolar pada raksasa telekomunikasi Bezeq sebagai imbalan atas laporan yang menguntungkan di situs berita Walla!.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Amir Fuchs, peneliti di Israel Democracy Institute, tuduhan ini menjadi yang paling kompleks. Ini berbeda dengan kasus suap di mana uang berpindah tangan.

Netanyahu, lanjut dia, hanya mendapat liputan media. Sedangkan pada kasus Bezeq, Netanyahu dituduh melakukan jauh lebih banyak dari hanya mencari artikel manis.

(Middle East Monitor/ayp)

[Gambas:Video CNN]