Presiden Libanon Usul Amonium Nitrat Dipindah Sebelum Meledak

CNN Indonesia | Selasa, 11/08/2020 19:07 WIB
Presiden Libanon, Michel Aoun, mengaku sudah mengetahui persediaan 2.750 ton amonium nitrat di pelabuhan Beirut sebelum akhirnya meledak pada pekan lalu. Presiden Libanon, Michel Aoun. Dia mengaku sudah mengetahui tentang persediaan 2.750 ton amonium nitrat di pelabuhan Beirut, sebelum akhirnya meledak pada pekan lalu. (AFP/JOSEPH EID)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Libanon, Michel Aoun, mengakui bahwa dia mengetahui tentang persediaan 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan Beirut sebelum akhirnya meledak pada pekan lalu dan menewaskan lebih dari seratus orang.

Dilansir dari ITV, Selasa (11/8), Aoun mengatakan dia telah diberitahu tentang ribuan ton senyawa kimia itu sekitar tiga pekan yang lalu, dan segera memerintahkan badan-badan militer dan keamanan untuk melakukan upaya "apapun yang diperlukan".

Aoun mengatakan tanggung jawabnya berakhir ketika dia memerintahkan pemindahan bahan kimia itu, dia juga mengatakan bahwa dia tidak memiliki otoritas atas pelabuhan, dan pemerintah sebelumnya sudah diberitahu tentang keberadaan kargo tersebut.


"Bahannya (amonium nitrat) sudah ada selama tujuh tahun, sejak 2013. Mereka bilang, itu berbahaya dan saya tidak bertanggung jawab. Saya tidak tahu di mana itu ditempatkan. Saya bahkan tidak tahu tingkat bahayanya. Saya tidak punya kewenangan untuk berurusan langsung dengan pelabuhan," ujarnya dalam konferensi pers.

Amonium nitrat adalah bahan kimia yang digunakan dalam pupuk dan bahan peledak. Bahan kimia yang meledak di Beirut itu dibawa oleh kapal kargo MV Rhosus yang melakukan perjalanan dari Georgia ke Mozambik pada 2013.

Karena tidak dapat membayar bea pelabuhan dan kapal dilaporkan bocor, Rhosus akhirnya disita oleh pemerintah Libanon.

Sebuah dokumen yang muncul mengungkapkan para pejabat telah diperingatkan setidaknya sebanyak sepuluh kali tentang persediaan 2.750 ton amonium nitrat yang hampir tujuh tahun disimpan di pelabuhan.

Dokumen pertama diketahui muncul pada 21 Februari 2014, tiga bulan setelah kedatangan kapal.

Pejabat senior bea cukai, Kolonel Joseph Skaff, menulis kepada departemen anti-penyelundupan otoritas bea cukai. Skaff memperingatkan bahwa material yang masih berada di atas kapal "sangat berbahaya dan mengancam keselamatan masyarakat".

Kekhawatiran berikutnya muncul pada Juni 2014. Kepala departemen bea cukai, Badri Daher mengatakan dia dan pendahulunya mengirim enam surat kepada hakim yang memperingatkan tentang bahaya tersebut.

Infografis Fakta di Balik Ledakan Besar di Libanon

Ledakan yang mengguncang Beirut pada Selasa (4/8) lalu merupakan ledakan terbesar dalam sejarah Libanon.

Korban tewas yang diketahui mencapai 154 jiwa dan lebih dari lima ribu orang terluka.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]