Vaksin Corona Rusia, dari Riset Rahasia hingga Isu Peretasan

CNN Indonesia | Rabu, 12/08/2020 11:09 WIB
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan bahwa penggunaan vaksin virus corona (Covid-19), Sputnik V, telah disetujui pada 11 Agustus. Ilustrasi vaksin virus corona. Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan bahwa penggunaan vaksin virus corona (Covid-19), Sputnik V, telah disetujui pada 11 Agustus. (iStockphoto/Vladans)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan bahwa penggunaan vaksin virus corona (Covid-19) buatan dalam negeri, Sputnik V, telah disetujui pada Selasa (11/8) kemarin.

Dengan disetujuinya penggunaan vaksin ini, Putin mengatakan Rusia menjadi negara pertama di dunia yang melakukan hal tersebut. Dia mengatakan vaksin itu akan menjalani uji klinis tahap tiga di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Filipina. Satu negara lagi, Brasil, masih dalam penjajakan.

Bahkan, salah satu putri Putin ikut menjadi relawan dalam proses uji klinis dengan menerima dua suntikan vaksin.


Rusia pertama kali mengumumkan melakukan eksperimen vaksin virus corona kepada manusia pada 7 April lalu. Saat itu disebutkan bahwa pengujian dilakukan di pusat riset di Rusia, Vektor State Virology and Biotechnology Centre, kepada 180 relawan mulai 29 Juni.

Kepala Vektor State Virology and Biotechnology Centre, Rinat Maksyutov, menjelaskan ilmuwan di laboratorium rahasia di Koltsovo telah mengembangkan beberapa prototipe vaksin corona. Pengujian saat itu sudah dilakukan pada tikus, kelinci, dan hewan lainnya untuk menentukan prototipe paling menjanjikan pada 30 April.

Kemudian pada Juli, Rusia menjadi negara pertama yang berhasil merampungkan uji coba klinis vaksin Covid-19 pada manusia.

Penelitian itu dilakukan di Pusat Penelitian Klinis Obat di Sechenov University sejak 18 Juni 2020. Penelitian memperlihatkan keberhasilan vaksin Covid-19 pada relawan.

"Penelitian telah selesai dan itu (hasil penelitian) membuktikan bahwa vaksin aman," ujar Kepala Peneliti Pusat Penelitian Klinis Obat Sechenov University, Eleno Smolyarchuk, melansir Forbes.

Tim peneliti juga menyelesaikan kontrak dengan relawan dalam dua tahap, pada 15 Juli dan 20 Juli.

Uji coba ini melibatkan dua kelompok sukarelawan dalam dua tahap. Kelompok pertama terdiri dari 18 relawan dan kelompok kedua melibatkan 20 relawan.

Setelah mendapatkan suntikan, relawan tetap diminta mengisolasi diri di rumah sakit selama 28 hari.

"Data yang diperoleh membuktikan bahwa relawan dari kedua kelompok membentuk respons kekebalan tubuh setelah diberikan suntikan vaksin," tulis pernyataan Kementerian Pertahanan.

Saat itu, masih belum ada informasi pasti tentang kapan vaksin akan memasuki tahap produksi komersial.

Di saat yang sama, Rusia dituduh mencoba meretas sejumlah laboratorium Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada untuk mencuri data penelitian vaksin Covid-19.

Ketiga negara itu menuduh sekelompok peretas yang memiliki hubungan dengan Kremlin mencoba meretas lab-lab mereka yang tengah melakukan penelitian vaksin corona.

Ketiga negara itu mengatakan kelompok peretas yang disebut APT29 "hampir pasti" terkait dengan intelijen Rusia.

Rusia segera membantah tudingan ketiga negara tersebut.

"Saya tidak meyakini cerita itu, sama sekali tidak masuk akal. Di dunia ini, untuk menuduh negara terkait dengan kelompok peretas sangat tidak mungkin," kata Duta Besar Rusia di London, Inggris, Andrei Kelin, seperti dilansir AFP pada 21 Juli lalu.

Kelin membantah tuduhan Inggris yang menyatakan para peretas Rusia juga terlibat untuk mengacaukan pemilihan umum Inggris pada tahun lalu.

[Gambas:Video CNN]

Setelah dituduh hendak mencuri data vaksin, pada akhir Juli Rusia dilaporkan akan menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui vaksin virus corona.

Seperti dilansir CNN, pada 29 Juli, sumber pejabat Rusia mengatakan mereka berencana mendapatkan persetujuan vaksin dari pemerintah pada 10 Agustus atau bisa lebih cepat. Vaksin itu dilaporkan dibuat oleh Institut Gamaleya.

Menurut sumber itu, setelah mendapat persetujuan pemerintah, vaksin itu akan langsung digunakan untuk masyarakat. Namun, yang paling awal menjalani imunisasi adalah para petugas kesehatan.

Kemudian pada 11 Agustus, Rusia mengumumkan bahwa negara itu menyetujui penggunaan vaksin sekaligus menjadi negara pertama di dunia yang melakukan hal tersebut.

"Pagi ini, untuk pertama kalinya di dunia, vaksin untuk melawan virus corona didaftarkan di Rusia," kata Putin lewat konferensi video yang disiarkan televisi didampingi jajaran kabinet seperti dikutip dari AFP.

Selanjutnya Rusia menyatakan akan segera memproduksi massal vaksin Covid-19 itu dan menghasilkan beberapa juta dosis per bulan pada tahun depan.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]